16 Ribu Pekerja di Batam Terjerat Narkoba

0
108
BNN bersama Pemprov Kepri menggelar tes urine terhadap pegawai dan pejabat di lingkungan Pemprov Kepri, Senin (24/06). (F: Humas Pemprov Kepri)

RASIO.CO, Tanjungpinang – Maraknya peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sudah merasuk ke segala lini. Hampir semua kalangan tak luput dari ancaman narkoba, baik usia maupun pekerjaan.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kepri mencatat, ada sekitar 16.000 pekerja di Kota Batam, Kepri terjerat dalam kasus penyalahgunaan narkoba. Data itu merupakan hasil survei yang dilakukan BNN dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2018 yang digelar di 16 kota se-Indonesia, salah satunya Batam.

“Saat itu fokus survei kami ialah pengaruh narkoba di lingkungan pekerja, pelajar, dan rumah tangga,” kata Kepala BNN Provinsi Kepri, Brigadir Jenderal Polisi Richard Nainggolan di Tanjungpinang, dikutip dari Antara, Kamis (27/06).

Richard Nainggolan mengatakan, selain survei tersebut, pada tahun 2016 BNN bersama Universitas Indonesia (UI) juga melakukan survei terhadap jumlah penyalahgunaan narkoba di Kepri secara umum. Hasilnya ada sekitar 26.540 warga Kepri yang terlibat barang haram itu.

“Kepri menyumbang 1,7 persen penyalahgunaan narkoba secara nasional, yang jumlahnya mencapai sekitar 4 juta orang,” kata dia.

Menurut Richard, saat ini Indonesia tengah darurat narkoba karena hampir seluruh daerah tidak ada lagi yang terbebas dari narkoba. Pengaruh narkoba juga sudah berhasil masuk ke berbagai kalangan masyarakat, hingga berpotensi merusak kemajuan, daya saing serta masa depan bangsa Indonesia.

Karena itu, lanjut Richard, BNN akan terus berupaya menekan pengaruh narkoba ke semua lini kehidupan masyarakat. Upaya-upaya itu mulai dari melakukan penyuluhan di lingkungan keluarga, melakukan rehabilitasi terhadap pecandu atau penyalahguna narkoba, serta bertindak tegas terhadap para sindikat pengedar narkoba.

“Pemberian hukuman mati kepada pengedar itu sudah konstitusional,” katanya.

Pengguna narkoba di Tanjungpinang

Sementara itu, Kepala BNN Kota Tanjungpinang, Kepri, AKBP Darsono mengatakan, pihaknya sepanjang tahun ini telah merehabilitasi 25 pengguna narkoba. BNN Tanjungpinang menargetkan tahun 2019 ini bisa merehabilitasi 40 pengguna.

Menurut Darsono, puluhan pengguna narkoba tersebut adalah masyarakat umum yang berusia rata-rata 20 hingga 35 tahun. Rehabilitasi dilakukan karena ada pelaku yang datang melapor secara sukarela ke BNN dengan didampingi keluarga dan saudara.

Ada pula, pelaku penyalahgunaan narkoba yang diantar oleh pihak kepolisian baik dari Polres Bintan maupun Tanjungpinang.

“Biasanya yang diantar kepolisian itu tertangkap narkoba tetapi tidak memiliki barang bukti, melainkan positif mengonsumsi narkoba,” kata AKBP Darsono di acara peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) 2019 di Aula Bulang Linggi, Tanjungpinang, Rabu (26/06).

Peringatan HANI pada tahun ini digelar serentak seluruh Indonesia dengan mengangkat tema “Milenial Sehat Tanpa Narkoba, Menuju Indonesia Emas”.

Menurut Darsono, tema tersebut memiliki makna bahwa kaum milenial harus menjadi generasi yang tangguh dan berkualitas demi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia ke depan. Salah satunya ialah bebas dari pengaruh narkoba.

“Saat ini narkoba menjadi ancaman terbesar di negara kita karena dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa depan,” katanya.

BNN akan terus berupaya memutus rantai peredaran narkoba yang telah masuk ke hampir semua kalangan masyatarakat. Upaya yang dilakukan mulai dari penyuluhan bahaya narkoba, rehabilitasi penyalaguna atau pencandu narkoba, hingga penindakan hukum terhadap sindikat pengedar narkoba.

“Kami tidak akan main-main dengan narkoba. Apalagi, ada instruksi Presiden tembak mati di tempat bagi bandar narkoba,” tegas Darsono.

***

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY