Ali Mafia Pangan Impor Duduk Dibangku Pesakitan PN Batam

189

RASIO.CO, Batam – Diduga Terdakwa Ali merupakan Komisaris PT.Indo Jati Pratama mafia Pangan Import asal Malaysia duduk dibangku pesakitan Pengadilan Negeri Batam dalam kasus mengedarkan pangan tampa izin edar. Rabu(15/08).

Ironisnya, diduga terdakwa merupakan pemain lama dalam hal pangan impor asal Malaysia berupa bakso, nugget, sosis dan lainnya, namun pengakuanya saksi di ruang sidang PN Batam baru beroperasi 2017 dan barang diperoleh dari salesman.

Dan lagi terdakwa ALi mendapat fasilitas yaitu berupa tahanan luar, sama dengan para mafia pangan lainnya yang saat ini duduk dipersidangan PN Batam.

Sidang yang dipimpin majelis hakim ketua Redite didampingi dua hakim anggota, dalam agenda pembacaan dakwaan JPU Rosmarlinda Sembiring sekaligus pemeriksaan saksi serta BPOM Batam.

“Awalnya informasi masyarakat dan saat didatangi gudang terdakwa ditemui barang tersebut tidak memiliki izin adar dan terdakwapun sedang mengajukan beberapa item produk asal Malaysia untuk medapatkan izin dari BPOM,” Kata Gunawan saksi BPOM Kepri.

Gunawan menambahkan, digudang terdakwa ditemukan puluhan jenis barang impor asal malaysia tidak memiliki izin, lalu dilakukan penyitaan dan terdakwa mengaku barang didapat dari salesman.

Sementara itu, Liana karyawan terdakwa serta juga sebagai Direktur perusahaan PT.Indo Jati Pratama mengatakan, bahkwa produk tersebut merupakan pesanan Ali dan dititipkan digudang kala itu, sedangkan barang tersebut merupakan diorder sendiri oleh Ali pada momen lebaran.

“Intinya barang milik Ali yang dititpkan digudang perusahaan dan saya sendiri yang mencatat dan mengeluarkan ketika dapat order untuk dijual agar pembukuan perusahaan balance,”jelasnya.

Liana menambahkan, perushaan kami bergerak dibidang distributor lokal produk jakarta serta memiliki izin dan sudah beroperasi setahun, namun sahan saya hanya 20 persen sisanya terdakwa Ali.

“Sehingga segala keputusan lebih didominasi terdakwa,”ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Terdakwa Ali diduga merupakan bos importir pangan olahan PT.Indo Jati Pratama asal Malaysia mendapat keistimewaan sebagai tahanan luar serta dijerat UU pangan.

Informasi lapangan, terdakwa diduga merupakan importir pangan olahan jenis bakso, nugget dan lainnya, ironisnya pangan olahan terdakwa digrebek BPOM Kepri serta diketahui Tampa izin edar.

Dalam Dakwaannya JPU Rosmarlinda Sembiring dalam SIPP PN Batam.Dimana awalnya, di
bulan April tahun 2018 melakukan kegiatan rutin razia terkait pangan yang diedarkan Tampa izin edar.

Saat dilakukan razia di perusahaan terdakwa yang terletak di komplek Nagoya Point blok G no 01-02 Pasar Angkasa Batam bertemu dengan salah satu karyawan yaitu saksi Wahyudi.

Lalu petugas dari Balai POM yaitu saksi Novandi Pratama dan saksi Rai Gunawan menunjukkan surat tugas lalu petugas bersama dengan saksi Wahyudi yang merupakan karyawan PT. Indo Jati Pratama melakukan pemeriksaan terhadap produk pangan yang ada di PT. Indo Jati Pratama.

Kemudian saksi Wahyudi menghubungi terdakwa ALI yang merupakan pemilik produk pangan yang ada di PT. Indo Jati Pratama.

Dan petugas menemukan produk pangan olahan yang tidak memiliki izin edar atau belum
mendapatkan persetujuan pendaftaran yang di berikan oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan R.I sehingga tidak boleh di perdagangkan di wilayah Indonesia

Petugas BPOM Kepri menyita produk pangan tanpa izin edar berupa, Ramly Burger Lembu
produksi Ramly Food Processing Sdn.Bhd sejumlah 1.188 pcs.

Nutriplus Classic Frankfurter Ayam Madu produksi Lay Hong Food Corporation Sdn.Bhd
berjumlah 320 Pcs, Figo Steamboat Choice produksi Ql Figo Food Sdn,Bhd berjumlah 19 Pcs.

Mushroom Steamboat Selection produksi Ql Food Sdn,Bhd berjumlah 100 Pcs, C.I Food Sdn.Bhd2.464 Pcs.

Bahwa diketahui setiap pangan olahan sebelum di edarkan harus di uji kelayakannya untuk
mendapatkan nomor pendaftaran/nomor izin edar apabila hasil uji kelayakan aman untuk di konsumsi dan memenuhi persyaratan standar yang di tetapkan maka baru di berikan izin edar.

Bahwa terdakwa mendapatkan pangan olahan tanpa izin edar tersebut dengan cara membeli kepada sales yang datang ke toko milik terdakwa lalu kemudian di edarkan atau di jual kepada konsumen yang memesan langsung kepada terdakwa dan juga terdakwa jual ke pasar-pasar, toko dan kedai yang ada di kota Batam. Bahwa terdakwa sengaja mengedarkan pangan olahan tanpa ijin edar tersebut untuk mengharapkan keuntungan yang besar.

Terdakwa Ali atas Perbuatan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal142 Jo Pasal 91 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan.

APRI@www.rasio.co

Berikan komentar anda