Apakah Bersepeda Olahraga yang Tepat Dimasa Pandemi?

0
175

Kasus Pandemi virus Covid-19 sudahmenyebar di seluruh Negara didunia dan termasuk Negara Indonesia, yang telah menurunkan semua aktivitas yang terjadi dan membuat banyak orang menjadi khawatir.

Tidak bisa terus menerus hidup di pandemi seperti ini yang membuat orang berdiam diri dirumah aja.Yang kita ketahui bahwa pemerintah Indonesia sudah ingin menetapkan kehidupan tatanan baruatau New Normal yang pelaksanaanya tidak lepas dari protokol kesehatan.

Mulai dari rajin cucitangan, tidak berkontak tangan langsung, memakai masker, jagajarak, jauhi kerumunan dan menjaga kesehatan. Dengan adanya tatanan baru banyak hal-hal yang berubah seperti selalu menggunakan masker ketika berpergian keluar untuk memenuhi kebutuhan, selalu mencuci tangan, jagajarak, dan menghindari kerumunan.

Tidak ada lagi hal-hal yang berbaur seperti acara formal maupun nonformal dengan tatap muka langsung dan digantikan dengan menggunakan sistem daring(online). Untuk umat yang beragama tetap boleh datang ketempat ibadahnya masing-masing tapi dengan melaksanakan protokol kesehatan yang telah diperintahkan.

Mengenai tentang salah satu aturan protokol kesehatan yaitu jaga jarak dan jauhi kerumunan, banyak dari kalangan muda hingga tua untuk melaksanakan protokol tersebut dengan bersepedaan untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari.

Pesepeda meningkat disaat pandemi Covid-19 ini melanda. Bersepeda sudah menjadi tren di Negara kita saat ini, banyak orang berbondong bondong untuk beralih menjadikan sepeda sebagai sarana transportasi mereka, selain untuk berolah raga tetapi juga menghemat biaya dan juga tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Sepeda adalah kendaraan beroda dua atau tiga yang mempunyai setang, tempat duduk, dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya. Berbagai macam jenis sepeda, antara lain sepeda onthel, sepeda gunung, sepeda jalan raya, sepeda bmx, sepeda lipat, sepeda fixie dan masih banyak jenis sepeda lainnya.

Banyak manfaat bersepeda, antara lain untuk kesehatan adalah memperkuat otot tulang, mencegah penyakit kardiovaskular, membangun kekuatan tubuh, mengontrol diabetes, menurunkan beratbadan, dan masih banyak lagi, lalu manfaat lain dari bersepeda ialah untuk kegunaan sehari-hari dan tidak mengeluarkan biaya yang cukup banyak.

Adapun peningkatan tren bersepeda ini dikarenakan kekhawatiran masyarakat dengan infeksi virus di transportasi umum dan disebabkan oleh pembatasan transportasi umum selama PSBB.Pembatasan tersebut membuat banyak masyarakat untuk memilih sepeda sebagait ransportasi untuk beraktivitas sehari-hari.

Masyarakat pengguna sepeda juga merasa aman dapat terhindar dari risiko penularan Covid-19 dengan menghindari kerumunan yang biasa terjadi di transportasi umum.Selain bersepeda sangat praktis untuk berolahraga agar tubuh tetap sehat, dengan adanya bersepeda memungkinkan praktik physical distancing akan tetap berjalan dan bersepeda pun mengurangi polusi udara.

Maraknya pengguna sepeda membuat meningkatnya pemasaran di toko-toko sepeda menjadi laris manis.Walaupun bersepeda membuat badan namun ada dampak buruk dari bersepeda antara lain jumlah sperma menurun, berbahaya bagi rahim, dan bisa membuat pria mengalami impotensi. Tren ini juga membuat resah sebagian masyarakat karna beberapa pengguna yang menggunakan marka jalan tidak dengan sebagaimana lazimnya.

Tren sepeda sebenarnya bagus disaat wabah pandemi ini, akan tetapi banyak dari pengguna kehilangan etikanya di ruang publik. Kebanyakan pengguna sepeda melakukan aktivitasnya dengan beramai-ramai dan salahnya pengguna ini menggunakan bahu jalan yang banyak sehingga tidak menghormati pengguna kendaraan lain dan terlalu memakan banyak marka jalan sehingga menimbulkan macet.

Bagi pengguna sepeda yang tidak mengikuti aturan, bisa saja menimbulkan kecelakaan lalulintas yang dapat merugikan diri sendiri dan orang banyak. Sudah banyak terjadi kecelakaan sepeda, misalnya kejadian kecelakaan yang dialami seorang pesepeda Brompton di Jakarta akibat tertabrak kendaraan bermotor, lalu kecelakaan sepeda juga terjadi di seberang haltePolda Metro Jaya akibat separator atau water barrier yang jatuh tersenggol bus Transjakarta, dan masih banyak lagi kejadian kecelakaan sepeda lainnya.

Saat kalian melihat pesepeda, khususnya yang rombongan, bagaimana sikap mereka?Kebanyakan yang saya lihat, ada yang memakai dua jalur sambil ngobrol, menerabas lampu merah, bersepeda di trotoar, hingga melawan arus. Persoalan kurang tertibnya pesepeda ini lantaran hanya ingin mengikuti tren, tetapi belum memahami tatakrama bersepeda di ruang publik.

Beranggapan karena bersepeda itu tidak mengeluarkan polusi, sehingga merasa derajatnya di atas para pengguna kendaraan yang lainnya. Jika sudah terjadi kecelakaan, siapa yang akan disalahkan? Adapun pengguna sepeda harus menghormati dan beretika, etika dasar dalam bersepeda yang paling penting dan mudah adalah tertib.

Misalnya jangan bersepeda di tengah jalan atau memakan satu jalur untuk berdua serta patuhi segala peraturan lalulintas. Pengguna sepeda seharusnya selalu berhati-hati dan menggunakan bahu jalan dengan semestinya dan tetap mengikuti aturan seperti menggunakan jalur khusus bersepeda agar mengurangi resiko kecelakaan.

Terlihat sederhana, tapi nyatanya masih banyak juga yang enggan melakukannya. Bersepedaria boleh saja, asal jangan lupa etika. Bukankah percuma, jika kita bersepeda, namun membahayakan diri sendiri atau orang lain yang ada disekitarkita.

Penulis Muhammad Ridho Saputra

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY