Dua Saksi BPR Agra Dhana Bantah Lakukan Internal Audit

Sidang Pembuktian Kasus Erlina

2104

RASIO.CO, Batam – Dua saksi kunci karyawan BPR Agra Dhana yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum membantah dakwaan jaksa bahwa alat bukti hasil internal audit digunakan bukan dari saksi.

Keterangan kedua saksi Manager Marketing Beny dan Manager operasional Sari Kurniawati
dengan tegas membantah bahwa mereka tidak pernah melakukan audit internal ditempatnya bekerja hanya saja melakukan tressing atau mencatat tetapi tidak melakukan jurnal ketika Terdakwa Erlina melakukan pembayaran.

“Kami tidak melakukan audit internal seperti dakwaan jaksa tetapi hanya strecing saja lalu
dituangkan secara metrik,” Kata Saksi Beny di ruang sidang PN Batam. Rabu(05/09).

Ironisnya, lagi, perkara Erlina sudah masuk tahap pembuktian karena putusan esepsi hakim menolak, namun barang bukti tidak ada karena kedua saksi membantah hasil audit internal sehingga pemeriksaan saksi tampa barang bukti dan hanya sebagai keterangan dipersidangan.

Hal ini sesuai pertanyaan PH terdakwa Manuel P Tompubolon terhadap saksi Manager Marketing Beny , apakah benar barang bukti yang didakwakan jaksa yakni hasil audit internal sehingga BPR Agra Dhana dirugikan Rp4 juta menjadi Rp117 juta anda yang buatkan?

“Tidak ada audit internal kami lakukan , hanya ada temuan karena kami tidak punya kewengan melakukan audit,” ujarnya.

Sementara itu, saksi Sari Kurniawati mengaku hanya diperintah secara lisan oleh terdakwa
Erlina menstranfer melalui tranfer e-elektronik mengunakan Token.

Saksi Sari dalam keterangannya terkesan berusaha berkelit serta mengatakan takut dipecat atasannya sehingga melakukan tranfer kerening terdakwa , namun tidak melakukan pembuatan laporan internal audit serta hanya melakukan trecing saja.

“Saya takut dipecat dan saya selaku manager operasional tidak melakukan audit internal hanya trecing,” kata saksi Sari.

Salah seorang majlis hakim anggota Rossa agak terkaget disaatsaksi Sari mengatakan, bahwa melakukan penarikan atau pemindahan uang dari rekening BPR Agra Dhana berjumlah ratusan juta cukup dengan lisan dan dapat dicairkan dikasir karena SOP kala itu tidak ada.

“Benar penarikan dana ratudan juta tidak perlu persetujuan atasan secara tertulis cukup hanya lisan dan apa benar di bank tempat anda bekerja tidak ada SOP dan itu aneh,”kata Hakim.

Atas keterangan saksi Sari,  terdakwa Erlina mebantah keterangannya terkait memerintahkan terdakwa secara lisan mencairkan dana senilai ratusan rupiah serta termasuk masalah token karena token murni dipegang Sari sebagai Manager Operasional.

“Saya tidak pernah memerintahkan Sari secara lisan dan token hanya murni dipegang Sari sebagai manager Opersional dan tidak bisa yang lain pegang Token tersebut yang mulia,”ujarnya.

APRI@www.rasio.co //

 

 

 

Berikan komentar anda