Eddy Dua Kali Terlibat Produksi Kosmetik Ilegal Dituntut 3 Bulan Penjara

0
296
foto/dokument sidang sebelumnya kasus sama April 2019

RASIO.CO, Batam – Diduga terpidana Eddy diduga kembali berurusan dengan hukum dalam kasus yang sama, dimana sebelumnya di hukum 10 bulan penjara pasal 197 undang-undang no 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

Ironisnya, Terdakwa diduga bukannya membuat jera tetapi kembali berbuat diduga memproduksi produk kosmetik ilegal di rumah beralamat Baloi Blok VI Jalan Kenanga No.44 Kelurahan Batu Selicin batam, namun sebelumnya memproduksi Jalan Mangga 1 No. 14 A, Baloi Blok II Batam.

Parahnya, Dalam tuntutan JPU terdakwa Eddy malah mendapat tuntutan lebih ringan dibandingkan tuntutan JPU sebelumya pada bulan April 2019 lalu yakni 3 bulan penjara tampa denda dan ironisnya terdakwa tidak ditahan.

“Menyatakan terdakwa Eddy bersalah melakukan tindak pidana “Dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan dan mutu sebagaimana dimaksud dalam pasal 98 Ayat (2) dan Ayat (3) UU RI No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

” Sebagaimana yang didakwakan kepada terdakwa yaitu melanggar Pasal 196 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (dalam dakwaan kedua).

Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa EDDY dengan pidana penjara selama 3 (tiga) bulan dengan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah terdakwa tetap ditahan dan Denda sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) subsider 1 (satu) bulan Kurungan,” ujar JPU beberapa hari lalu. Jumat(25/10).

Dalam dakwaan JPU, Eddy merupakan kasus tangkapan BPOM Kepri salah satu kamar sebuah rumah yang beralamat di Baloi Blok VI Jalan Kenanga No.44 Kelurahan Batu Selicin, Batam.

Balai POM RI dengan disaksikan oleh saksi Suryani dan saksi Bahrizal Bin Bahrum melakukan bongkar paksa pintu sebuah kamar di rumah yang diduga dijadikan gudang tempat penyimpanan produk kosmetik.

Kemudian di dalam kamar ditemukan produk kosmetik yaitu krim esther, temulawak, Tabitha dan peralatan produksi lainnya seperti ember, bahan baku kosmetik di dalam jerigen, pot-pot kosong dan kotak kemasan kosong yang tidak ada izin edar dan setelah itu baru terdakwa datang bersama saksi Sutarno dan saksi Yayuk Diah Anggraeni.

Bahwa setelah produk-produk di temukan oleh para saksi penangkap produk – produk tersebut adalah milik terdakwa Eddy.

Modus terdakwa mengemas ulang produk kosmetik tersebut ke wadah-wadah kosong yang lebih kecil yang sudah dibersihkan. bahkan terdakwa mengetahui produk kosmetik yang ditemukan tersebut tidak memilikii izin edar tetapi terdakwa tetap menjualnya.

Terdakwa Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 197 UU RI No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. dan Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 196 UU RI No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

APRI@www.rasio.co //

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY