Ekonomi Indonesia Tumbuh Landai, Sulit Lewati 5,3 Persen

0
69

RASIO.CO, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Republik Indonesia tahun ini diperkirakan akan tumbuh landai. Meski berbagai upaya dilakukan pemerintah, tapi sulit untuk melewati 5,3 persen.

“Ternyata tingkat pertumbuhan optimal kita, maksimal kalau kami melakukan segala sesuatunya secara 100 persen itu hanya 5,3 persen. Jadi sulit sekali untuk di atas 5,3 persen,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, dikutip CNN Indonesia.com, Selasa (9/07).

Bambang mengatakan hal itu usai menyampaikan analisis pertumbuhan ekonomi pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (8/07). Analisis dibuat berdasarkan progres berbagai komponen pertumbuhan ekonomi, seperti investasi, ekspor, dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Ia mengatakan, pemerintah akan berusaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan. Pasalnya, menurut dia, pihaknya menargetkan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen untuk skenario paling dasar dalam RPJMN 2020.

Sementara target untuk skenario moderat sebesar 5,6 persen per tahun dan skenario optimis sebesar 6 persen per tahun.

Guna mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai skenario RPJMN, menurut dia, tetap diperlukan sejumlah terobosan dalam menggenjot ekonomi.

Bambang pun menjabarkan, faktor utama yang menghambat pertumbuhan ekonomi berdasarkan diagnosis yang dilakukan pihaknya adalah masalah regulasi dan institusi. Presiden Joko Widodo juga, menurut dia, sudah meminta agar dua faktor tersebut diatasi agar pertumbuhan ekonomi bisa naik.

“Sebenarnya ini masalah yang sudah berulang, cuma tadi ingin ditegaskan bahwa mengatasi masalah regulasi dan institusi sangat penting, terbukti dia adalah faktor yang paling menghambat faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata dia.

Untuk itu, menurut Bambang, pemerintah ke depan akan melakukan penataan regulasi, khususnya yang menghambat investasi maupun perdagangan ekspor dan impor.

“Kita lebih lama dan lebih mahal dari negara tetangga itu saja membuktikan dari segi daya saing pun Indonesia masih harus mengejar ketertinggalan dibandingkan negara tetangga. Jadi kuncinya kepada penataan kembali regulasi dan implementasi dari regulasi di lapangan,” pungkasnya.

Kinerja ekspor-impor menurun

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meramalkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 akan melandai dibandingkan dengan kuartal I 2019. Proyeksi ini mengacu pada proyeksi kinerja ekspor dan impor yang menurun.

Perry Warjiyo mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 kemungkinan hanya berkisar di area 5,07 persen dan 5,1 persen. Jika bertengger di angka 5,07 persen, maka ekonomi dalam negeri sama seperti kuartal I 2018.

Potensi penurunan kinerja ekspor dan impor terjadi sebagai dampak dari situasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Perry menyebut pelemahan kinerja ekspor terutama terasa untuk komoditas dan manufaktur.

“Kalau ekspor turun itu memang impor menurun. Itu karakteristik atau pola pertumbuhan di kuartal II 2019,” ucap Perry di Jakarta, Senin (8/07).

Menurutnya, penurunan ekspor itu bisa terlihat dari penjualan produk ke AS. Selebihnya itu, Perry melihat ekspor masih cukup baik.

Begitu juga dari sisi produknya, BI menyebut tak semua ekspor komoditas melemah pada kuartal II 2019. Dua komoditas yang penjualannya masih positif, yakni batu bara dan kelapa sawit.

“Sejumlah kinerja ekspor juga ada yang cukup baik,” imbuhnya.

Di sisi lain, Perry mengatakan tingkat konsumsi rumah tangga sepanjang kuartal II 2019 meningkat karena ada pemilihan umum (pemilu), Ramadan serta Lebaran. Pada momen tersebut, pola belanja masyarakat biasanya lebih banyak dari bulan-bulan biasanya.

Kemudian, dari sisi investasi bangunan juga diklaim positif karena proyek pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut. Berkat dua sentimen ini, pertumbuhan ekonomi masih bisa tertolong pada kuartal II 2019.

“Kedua itu sumber yang menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019,” katanya.

***

LEAVE A REPLY