Empat Pelaku Sabu 1,6 Ton Akui Dapat Upah Rp800 Juta

70

RASIO.CO, Batam – Empat terdakwa Chen Hui, Chen Yi, Chen Mais Heng dan Yao Yin Fa kasus dugaan kepemilikan sabu 1,6 Ton Sabu asal China akui mendapat upah Rp800 Juta untuk membawa sabu ke Indonesia sesuai BAP tambahan Mabes Polri.

Ironisnya lagi, keempat terdakwa terutama kapten kapalnya sudah mengetahui bahwa barang yang akan diangkut merupakan sabu dan modusnya sebagai nelayan penangkap kepiting.

“13 Titik kordinat sudah ditentukan untuk arah kapal sesuai instruksi Low wu dan pengakuan mereka disekap disalah satu pulau merupakan rekayasa,” kata penterjemah diruang sidang utama PN Batam. Selasa(27/08).

Selama diperjalanan mereka ditengah laut berkomunikasi mengunakan handphone satelit dan selama hampir 30 puluh hari diperjalanan serta berada diperairan indonesia memang bertujuan untuk memasok sabu dan hasil introgasi polisi Baijing diakui mereka sehingga terjadi BAP tambahan,” kata saksi penterjemah dari jakarta.

“Membenarkan adanya tim kepolisian dari komisi Baijing datang melakukan penyelidikan serta melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa secara bergantian,” kata saksi penterjemah terhadap hakim Chandra.

Sebelumnya, Sidang lanjutan dugaan kepemilikan 1,6 ton dengan terdakwa 4 warga negara China , mengahadirkan saksi penterjemah Herlina, ironisnya keterangan saksi tersebut di patahkan JPU terkait hasil pemeriksaan terdakwa di Polda Kepri.

Parahnya, bantahan JPU yang khusus didatangkap dari Jaksa Agung membuat saksi
penterjemah Herlina mengakui adanya BAP tambahan bahwa keempat terdakwa berdasarkan hasil introgasi kepolisian China di Mabes Polri, keempat terdakwa mengakui tahu kapal bawa sabu.

Dan keempat terdakwa dalam mengirim sabu 1,6 ton ke Indonesia mendapat upah jika
dirupiahkan mencapai Rp800 juta , namun baru menerima separohnya dan yang memberi order adalah Lou Wu(DPO).

BAP tambahan ini terjadi karena berdasarkan mengakuan keempat terdakwa mengaku
dipenyidik melalui penterjemah Herlina mereka merupakan nelayan untuk menangkap ikan dan berlayar selama 11 hari.

Anehnya, dipersidangan penterjemah dengan lugas serta bersemangat menceritakan hasil
pendampingannya sebagai penterjemah sedari pukul 12 WIB siang sampai 22 Wib malam pada januari 2018 terhadap terdakwa Chen Hui, Chen Yi, Chen Mais Heng dan Yao Yin Fa , bahwa mereka nelayan serta tidak mengetahui kapalnya ada membawa sabu.

Bahkan, hasil pengakuan keempat terdakwa memakai bahasa Mandarin yang diterjemahkan saksi Herlina saat diperiksa dpenyidik Polda Kepri , segala sesuatu keperluannya terdakwa sudah disiapkan dan mereka tingal berlayar untuk mencari ikan.

Akhirnya, setelah hampir satu jam mendegarkan saksi penterjemah Herlina, JPU Jaksa Agung mencecar pertanyaan bertubi-tibi sesuai hasil BAP tambahan Mabes Polri yang diketahui saksi bahwa keempat terdakwa mengakui serta meminta maaf terhadap negara Indonesia terkait pengiriman sabi sebanyak 1,6 ton dengan upah mencapi Rp800 juta.

Kata JPU, dalam BAP Tambahan yang saudari tandatangani , setelah adanya kepolisian China melakukan intograsi yang sudah diterjemahkan bahwa keempat terdakwa mengakui
perbuatannyadan tahu barang yang dibawa adalah sabu?.

“Benar mengetahui di BAP tambahan terdakwa mengaku dan saya mengetahui ketika kembali dipanggil penyidik Mabes Polri,”ujar saksi Herlina.

Setelah mendengarkan semua keterangan saksi Herlina maupun keberatan dari para terdakwa, hakim Candra, SH lalu menunda sidang hingga ke pekan depan dalam agenda pemeriksaan saksi dari pernerjemah yang bernama Anton.

Selain itu kepada hakim, penasehat hukum terdakwa meminta agar panitera tidak usah mencatat pernyataan saksi Herlina tentang pengakuan terdakwa kepada polisi RRC tersebut.

Namun hakim Candra menolaknya, ia menjawab bahwa semua yang terjadi dipersidangan harus dicatat oleh panitera.

Seperti diketahui, pada 25 Januari 2018 terdakwa Chen Hui menerima panggilan telepon dari salah seorang kenalannya yang bernama Lao Wu(DPO), dan pada saat itu Lao Wu(DPO) memberitahu akan membeli sebuah kapal dan menawarkan pekerjaan kepada terdakwa untuk membawa kapal miliknya untuk mencari kepiting di perairan Malaysia untuk dibawa kembali ke China

Dalam kesempatan tersebut Lao Wu(DPO) juga meminta agar terdakwa mencari 3 orang lainnya yang memahami tentang mesin untuk bekerja dengan terdakwa di kapal tersebut,dengan upah sebesar 15.000 Yuan untuk nakhoda, 12.000 Yuan untuk mekanik dan 10.000 Yuan untuk pembantu nakhoda dan pembantu mekanik. Kemudian terdakwa Chen Hui menerima tawaran.

Selanjutnya terdakwa Chen Hui menelpon dan menawarkan pekerjaan mencari kepiting di
perairan Malaysia kepada:Terdakwa Chen Yi untuk membantu terdakwa menakhodai kapal
dengan upah sebesar 10.000 Yuan.

Terdakwa Chen Mei Sheng sebagai pembantu mekanik mesin kapal dengan upah sebesar 10.000 Yuan dan Yau Yun Fa dengan tugas sebagai mekanik mesin kapal dengan upah sebesar 12.000 Yuan dan ketiga terdakwa menerima tawaran pekerjaan tersebut.

Bahwa pada tanggal 30 Januari 2018 sekitar pukul 08.00 waktu China, Lao Wu (DPO) menelpon dan memberitahu terdakwa Chen Hui bahwa kapal sudah siap, dan agar menemuinya di pelabuhan Huang Qi bersama 3 (tiga) terdakwa lainnya pada sore hari.

Bahwa pada tanggal 30 Januari 2018 sekitar pukul 11.00 waktu China, keempat terdakwa
kemudian bersama-sama berangkat menggunakan bus untuk menemui Lao Wu (DPO) di
pelabuhan .

Sesampainya di kapal “Min Lian Yi Yun 61870”lao Wu menjelaskan bahwa 4 orang temannya akan membantu di kapal selama berlayar, setelah itu nmenyuruh untuk mengecek kapal.

Bahwa Pada 31 Januari 2018 para terdakwa bersama dengan keempat temannya Lau Wu(DPO) berangkat dari Pelabuhan Lianjiang , Fuzhou, China menuju sebuah titik kordinat yang telah diberikan oleh Lao Wu (DPO) dan di dalam kapal tersebut sudah berisi shabu-shabu dengan total berat bruto 1,622 Ton/1.622.000 gram, dimana setiap 1 atau 2 hari Lau Wu (DPO) menghubungi dan mengarahkan pelayaran.

Bahwa sekitar 11 Februari 2018 kapal tiba di suatu koordinat yang diberikan oleh Lau Wu(DPO) disekitar perairan Bagan Siapi-api kemudian berhenti di titik koordinat tersebut lalu kapal didatangi oleh kapal kecil (pompong) yang berisi dua orang dengan perawakan tinggi besar, kulit hitam dan rambut keriting/ikal.

Kemudian membawa para terdakwa menuju pantai dan di pantai sudah menunggu sebuah mobil yang selanjutnya membawa para terdakwa ke sebuah rumah dan tinggal di rumah tersebut selama 2 hari dengan penjagaan ketat. Setelah dua hari para terdakwa dibawa kembali ke kapal, sedangkan 4 (empat) orang anak buah Lau Wu (DPO) yang lain pulang ke China.

Bahwa para terdakwa, selama dalam perjalanan dengan menggunakan kapal mengangkut 1,622 Ton/1.622.000 gram narkotika jenis shabu-shabu dari China ke perairan Indonesia, tidak pernah melakukan bongkar-muat.

Hinggapada tanggal 20 Februari 2018 ditangkap Tim Gabungan dari Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri serta dari petugas Bea dan Cukai yang sedang melakukan patroli di perairan Kepulauan Riau atas informasi adanya kapal ikan yang diawaki warga Negara China yang bermuatan shabu-shabu akan melintas di perairan Kepulauan Riau.

Selanjutnya para petugas gabungan tersebut melakukan penangkapan terhadap kapal “MV MIN LIAN YI YUN 61870” pada saat para terdakwa sedang berlayar di perairan Pulau Pemping Kota Batam pada titik koordinat 01º 06’ 15” N/103 º 45’ 31” E, yang berada di wilayah perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan selanjutnya dibawa ke pelabuhan Sekupang, Kota Batam,Kepualauan Riauuntuk dilakukan penggeledahan hingga diketemukan barang bukti Narkotika jenis shabu-shabu seberat 1,622 Ton/1.622.000 gramtersebut.

Bya@www.rasio.co

Berikan komentar anda