Hakim Nyaris Perintahkan Saksi Masuk Bui Akibat Berkelit di Persidangan

71

RASIO.CO, Batam – Najlis hakim ketua DR.Syahlan SH,MH nyaris ketuk palu perintahkan JPU untuk memeriksa saksi Wildani terkeit berkelit dan berbelit dalam pemberian keterangan dalam sidang kasus meledaknya tangki kapal tengker di area PT. ASl yang korbannya David Cristoper Sitepu. Kamis(05/06).

“Bisa Saudara tidak pulang nanti, kalau saudara berbelit, tinggal mengeluarkan penetapan, masuk penjara saudara, saya ketok palu skor sidang agar diperiksa , untuk itu jangan berbelit dan berkelit dipersidangan dan berilah kesaksian yang sejujurnya,” ujar Syahlan sambil memegang palu diruang sidang utama PN Batam.

Kata, Syahlan, Keterangan saudara sudah ada di BAP kepolisian untuk itu tidak perlu berbelit-belit, apalagi saudara sudah disumpah maka ceritakanlah sejujurnya terkait SOP perengkrutan diperusahaan saudara bekerja, apalagi sudah ada korban seorang welder terutama sefetynya.

Selain itu, kata Syahlan, adakah tidak pekerjaan lain yang dikerjakan oleh perusahaan lain selain perusahaan saudara, dan apakah ada keharusan dengan pihak-pihak lain untuk saling koordinasi terkait pekerjaan yang dikerjakan terutama pihak ASL.

Selain itu, Syahlan kembali mempertanyakan saksi, apakah biaya perobatan yang diderita korban sudah tertanggulangi oleh perusahaan selama ini dan ini seathu saksi ya? tertangulangi ngak dan saudara jangan ngarang menjawabnya.

“Kalau saudara tidak tahu bilang tidak tahu dan jangan ngarang,” ujar hakim.

Atas pertanyaan majlis hakim tersebut saksi akhirnya menjawab dengan baik serta jujur dan mengatakan bahwa stutus korban sudah permanen dan paska peristiwa tersebut semua biaya perobatan ditanggung perusahaan bahkan kos beserta fasilitasnya ditanggung perusahaan termasuk ruang pendingin atas anjuran dokter.

“Ngajinya pun setahun dibayar perusahaan sampai november 2017 dengan catatan ada MC dari dokter yang mulia,”ujar saksi.

Selain itu, perusahaan telah mengeluarkan uang lebih kurang Rp150 juta sudah termasuk Gaji dan THR serta juga biaya kost serta faslitas lainnya seperti fasilitas pendingin dan juga ditawarkan bekerja sebagai staff diperusahaan, namun hanya sehari korban tidak kuat dan masih sakit.

“terakhhir korban minta berobat jalan dan juga minta pindah rumah sakit yaitu RSCM, namun perusahaan tidak memberi,”ujarnya.

Saksi menambahkan, seluruh kegiatan yang ada dilokasi PT ASL semua harus sepengetahuan perusahaan tersebut, dimana ada lebih 100 subcon dan tampa peralatan kerja tidak boleh masuk kelokasi PT ASL.

Mengenai Jasir Limbong yang sebelumnya memerintah korban untuk bekerja ngelas di dalam tanki, posisinya saat ini sudah tidak bekerja di PT. Dinamik Overseas lagi.

“Jasir Limbong sudah tidak bekerja lagi. Ia sudah mengundurkan diri,” jawab saksi kepada hakim.
tutupnya.

Dilansir Dinamikakepri.com, Saksi korban David Christohper, korban insiden Kapal Tanker MT. Succes Energy XXXII terbakar di PT ASL Tanjung Uncang pada tahun 2016 lalu, saat bersaksi tak bisa menahan kesedihannya, sehingga saat memberikan kesaksian di depan majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Batam, saksi meneteskan air matanya, Kamis (28/6/2018).

Korban terbakar yang sebelumnya bekerja di PT. Dynamic Overseas sebagai Welding pada tahun 2016 lalu itu, dengan rinci mengisahkan kepedihan yang dialaminya sejak ia mengalami peristiwa tragis tersebut.

“Waktu saya terbakar itu, satu pun tak ada orang yang mau menolong saya. Waktu saya keluar dari tanki, seluruh tubuhku terbakar. Untung saja saat itu ada supir mobil lori yang lewat dan mau membawa saya ke RS Embung Fatimah,” kata saksi sedih.

Disaksikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rumondang Manurung, SH, Hakim Dr.Syahlan, SH, kedua terdakwa yang merupakan pasangan suami istri, Ronald Robert Alexzander Mangera selaku Direktur Utama PT. Dynamic Overseas dan Dewi Wulandari sebagai Komisaris perusahaan serta disaksikan 2 penasehat hukum terdakwa, saksi menunjukan luka bakar yang ada di tubuhnya.

“Inilah bekasnya yang mulia, saat itu api membakar seluruh tubuh saya, tapi tak ada mau menolong saya,” ucap saksi David Cristohper.

Ia mengaku, baru 2 hari bekerja di perusahaan tersebut, lalu di hari ketiganya ia mengalami peristiwa tragis itu.

Kejadian kebakaran tanki itu terjadi saat ia melakukan welding (penyambungan besi=red) di dalam tanki kapal yang beraroma bensin.

Katanya, ia melakukan welding saat itu atas perintah dari Jamsir Limbong oleh pihak PT. Dynamic Overseas.

Kendati ia sudah menolak untuk mengerjakannya, namun Jamsir Limbong tetap memaksanya dengan alasan bahwa lokasi yang akan dikerjakannya itu sudah aman karena sebelumnya sudah dilakukan penyiraman dengan air.

“Sebelumnya aku sudah menolak untuk melakukan pengelasan. Aku menolak karena di dalam tanki itu baunya uap bensin. Namun Jamsir mengatakan tak apa-apa, karena dia atasan saya, makanya aku lakukan. Lalu tak lama setelah itu, tak tahu api dari mana, tanki pun terbakar dan apinya membakar tubuh saya. Dengan tubuh terbakar lalu saya keluar dari tanki, tapi saat iti ada orang yang mau menolong saya,” kenangnya.

Kata saksi lagi, ia melaporkan hal kejadian itu kepada polisi (Polda Kepri=red) lantaran pihak perusahaan tempat ia bekerja itu, selama menjalani perobatan, tidak pernah memperdulikannya.

Adapun pembayaran perobatannya selama di RSUD Embung Fatimah, kata dia itu semua ditanggung oleh saudaranya yakni orang yang sebelumnya memasukannya kerja di perusahaan Subconnya PT. ASL itu.

Saksi juga mengatakan rasa kekesalannya terhadap seorang dokter, Dr. Shelly Madona Diaprie, SP. BP, Dokter Spesialis Beda Plastik di Awal Bros yang mana selalu menyuntiknya dan memaksakannya agar bisa segera bekerja kembali.

“Tiap hari saya disuntik oleh dokter Shelly dan selalu memaksa saya supaya bekerja kembali. Pikir saya saat itu, bagaimana saya bekerja sedangkan kondisiku belum sehat sepenuhnya, karena luka bakar yang saya alami begitu menyakitkan, sebab 45 persent kondisi tubuhku mengalami bekas luka bakar dan gatal jika terkena suhu panas,” ucap saksi.

Kepada hakim, terdakwa Dewi Wulandari mengatakan, kalau ia maupun suaminya, sama sekali tidak pernah memerintahkan siapapun untuk melakukan welding di kapal Tanker MT. Succes Energy itu.

“Saya kebaratan jika dikatakan telah memerintahkan untuk pengerjaan kapal itu, sebab kami tidak pernah menerima kontrak kerja untuk pengerajaan kapal tersebut,” kata terdakwa Dewi yang tidak ditahan itu.

Diduga seperti ingin bermanuver, sebelum sidang keterangan saksi korban ini berakhir, pihak terdakwa melalui penasehat hukumnya mengatakan, agar pengobatan saksi dapat dilanjutkan.

“Kalau bisa saudara saksi perobatannya dilanjutkan lagi,” anjur penasehat hukum terdakwa seperti merasa kasihan.

Setelah mendengarkan keterangan saksi korban ini, sidang lalu diundur hakim hingga 1 minggu ke depan dengan agenda mendengarkan keterangan dari saksi yang lain.

Baca juga: Lima Pekerja Galangan Kapal Tewas, Begini Kronologis Kejadiannya

Usai persidangan, kepada media ini, Davit Cristohper mengatakan bahwa orang memerintahkan ia bekerja di tanki waktu itu, saat ini kata dia orang tersebut sudah mengundurkan diri dari PT. Dynamic Overseas.

“Tak lama Setelah kejadian saya terbakar itu, kudengar informasi orang itu langsung mengundurkan diri,” kata David.

Menanggapi adanya anjuran pihak terdakwa agar David kembali melanjutkan perobatannya, pihak keluarga yang juga sebelumnya ikut menyaksikan sidang itu mengatakan, merasa aneh dengan anjuran itu.

“Maksudnya apa itu, Iya saya juga heran tadi mendengarnya. Kok malah nyuruh berobat. Lalu selama ini kemana, kenapa sebelumnya tidak perduli, kalau mereka peduli, mungkin tak seperti ini,” ucap ibu Sitepu.

Dalam perkara ini, kedua terdakwa Ronald Robert Alexzander Mangera dan Dewi Wulandari, diancam pidana pasal 360 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara denda Rp 400 juta atau pasal 186 ayat (1) jo Pasal 35 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

APRI@www.rasio.co

Berikan komentar anda