Kasus BCC Hotel: Hakim Konfrontir 8 Keterangan Saksi Berbeda

59

RASIO.CO, Batam – Majlis hakim Pengadilan Negeri Batam akhirnya mengkonfrontir keterangan 8 saksi yang memberikan kesaksian berbeda dalam kasus persidangan dugaan penipuan ,penggelapan dan pemalsuan surat-surat BCC Hotel yang dilakukan terdakwa Tjipta Fujiarta.

Ke-8 saksi sudah diperiksa hakim sebelumnya, namun hakim menilai adanya perbedaan karena keterangan saksi berbeda dari BAP. dimana 5 saksi merupakan pemegang saham awal Hotel BCC dan 2 saksi merupakan notaris Angly Cenggana dan 1 notaris Saifudin.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam tak percaya atas keterangan terdakwa Tjipta Fudjiarta, Notaris Angly Cenggana SH, Notaris Saifuddin dan Elinda Siburian. Sehingga para saksi dihadirkan kembali untuk di konfrontir.

Kelima saksi yakni, Conti Chandra, Hasan, Wie Meng, Andreasi dan Sutriswi sebagai pemilik saham di PT BMS dan Hotel BCC

Terkuak dipersidangan bahwa kasus dugaan penipuan BCC Hotel yang diduga dilakukan Tjipta Fujiarta berdasarkan keterangan 5 saksi fakta ketika membuat akte penjualan saham memastikan Tjipta tidak hadir kantor notaris Angly Cenggana.

Ironisnya, tiga saksi dimana dua merupakan notaris dan satunya merupakan staff justru bersikukuh terdakwa Tjipta Fujiarta ada disaat perobahan akte 2,3 dan 4, namun apa saja ketika itu yang dilakukan dikantor notaris para saksi berdalih lupa.

Dari konfrontir yang dilakukan terhadap para saksi fakta ini terlihat adanya dugaan konspirasi dan sepertinya diduga peran akte notaris Angly Cenggana pemicu konflik karena dipersidangan Agly sebagai pemilik notaris selalu beralasan lupa terutama kronologis terjadinya perubahan akte terutama RUPS antara pemegang saham.

“Kami yakin terdakwa Tjipta Fujiarta tidak ada ketika penandatanganan Akte 2,3 dan 4 dikantor notaris Angly Cenggana,” Kata
saksi Hasan, Wie Meng, Andreas dan Sutriswi diruang utama PN Batam. Senin(16/07).

Kami datang ketika itu diundang pak Conti untuk hadir dikantor Angly Cenggana untuk menandatangani akte penjualan saham kami terhadap terdakwa tetapi saudari Angly sebagai notaris tidak ada membacakan isi akte dan hanya datang menandatangani lalu kami pergi.

Saksi Wie Meng dan diikuti saksi lain tetap teguh dengan perkataannya, bahwa tidak pernah ada menerima uang dari terdakwa Tjipta Fudjiarta. Saat tanda tangan Akte pun, tidak ada dibacakan satu persatu hanya disuruh tanda tangan saja.

“Saya tidak ada menerima uang dari terdakwa karena semua urusan pembayaran dari Conti Chandra,” kata saksi Wie Meng lagi.

Kemudian akte 2,3,4,5 diserahkan Angly Cenggana pada Conti Chandra, dengan alasan notaris bahwa pada saat terdakwa datang nanti tagihan atau pembayaran sudah diselesaikan.

“Akte 2,3,4,5 diserahkan oleh notaris Angly, alasannya bahwa pada saat terdakwa datang nanti tagihan atau pembayaran sudah selesai,” terang saksi Conti Chandra.

Terkait akte 89, terdakwa saat itu mengatakan mempelajari dulu akte itu. Setelah itu, terdakwa mengatakan bahwa akte 89 dibatalkan dulu. Saat itu, sempat juga saya tanyakan notaris Angly. Jika tak dibayar gimana, jawabnya ya habis sudah atau hangus, jadi hak milik terdakwa.

“Atas jawaban notaris itulah saya tidak setuju,” ungkap Conti Chandra selaku pendiri dan pemilik PT BMS.

Keterangan saksi Conti Chandra, Hasan, Wie Meng, Sutriswi dan Andreasi berbanding terbalik dengan pengakuan notaris Angly dan stafnya Elida Siburian.Yang mengatakan bahwa terdakwa Tjipta hadir di kantornya dan disaksikan para saksi pemegang saham hotel BCC.

Hakim Tumpal, hakim Yona dan hakim Taufik Nainggolan mempertegas kembali kepada saksi Wie Meng dkk. Apakah benar terdakwa hadir di kantor notaris Angly..?.Jawab saksi serempak, tidak ada hadir Yang Mulia.

Angly juga mengaku Sutriswi hadir tanggal 4 untuk tanda tangan akte. Nyatanya Sutriswi bantah dan mengatakan bahwa tanggal itu baru pulang dari luar kota dan dibuktikan dengan manifest tiket pesawat Lion. Namun pada tanggal 5, baru datang ke kantornya untuk menanda tangani.

Keterangan notaris Angly dan Elida Siburian diduga sudah memberikan keterangan palsu. Akar permasalahan antara Conti Chandra dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta diduga dari Notaris Angly Cenggana dan notaris Saifuddin.

Sementara keterangan saksi notaris Saifuddin juga dibantah langsung oleh saksi Conti Chandra. Notaris Saifuddin mengatakan tidak pernah memanggil atau menghubungi saksi Conti untuk hadir di kantornya dalam rangka penandatanganan akte dan rapat RUPS. Ujar Saifuddin.

Menurut Conti Chandra bahwa, notaris Saifuddin yang menelepon atas perintah dari terdakwa Tjipta Fudjiarta. Sehingga saat itu saya hadir tapi tidak masuk ke kantor notaris Saifuddin. Tegas Conti Chandra.

Sementara saat rapat juga terdakwa Tjipta Fudjiarta tidak ada. Ini diakui saksi Wie Meng, Hasan, Andreasi dan Sutriswi. Pungkasnya.(red/tn/di).

APRI@www.rasio.co

Berikan komentar anda