Kasus Dugaan Mesum di Ruang Dewan Batam Berujung Pelaporan ke Polisi

1300

RASIO.CO, Batam – Kasus dugaan mesum tenaga honorer diruang wakil DPRD Batam berujung pelaporan oleh Presiden Berlian dan Garda Indonesia ke Polresta Barelang.

Pantauan lapangan, dua pimpinan LSM Berlian ,Achmad Rosana dan Ketuanya LSM Garda Indonesia Aldi Braga mendatangi SPK Polresta Barelang untuk melaporkan dugaan mesum di ruang wakil Ketua DPRD Batam.

Berlanjut kedua pelapor sekira pukul 17.15 WIB bertemu Wakasatreskrim , Kanit PPA serta
penyidik , dan berakhir sekira pukul 18.25 WIB.

“Pertemuan cukup alot , namun akhirnya penyidik menerima dan meminta buat laporan resmi Senin(06/08)” kata Presiden Berlian Ahmad Rosano usai diruang penyidik. Sabtu(04/08).

Kata Rosano, ini merupakan Marwah sehingga perlu dilaporkan dugaan aksi bejat honorer
tersebut , parahnya lagi, itu gedung wakil rakyat dan kami prihatin.

“Ada indikasi dugaan servicenya tamu khusus karena honorer tersebut bertugas mengagendakan tamu berkunjung kesana,” ujar Rosano.

Rosano mengatakan, laporan diterima dan akan ditindak lanjuti kepolisian , namun penyidik berharap saksi kunci dapat dihadirkan dan nanti laporan resmi Senin tentang aduan masyarakat.

“Hari ini baru laporan informasi,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Garda Indonesia Aldi Braga mengatakan, kasus dugaan mesum yang
dilakukan dua orang tenaga hononer DPRD Batam akan selalu kami soroti dimana ini merupakan aib bagi warga Batam bila benar dan terbukti nantinya.

“Intinya kasus ini kami kawal karena BK DPRD Batam terkesan bungkam” Kata Aldi Singkat.

Dilansir Batamtoday.com, Diduga Perbuatan tak senonoh dua staf DPRD Kota Batam, JD dan AM, bersama dua tamu Wakil Ketua I Zainal Abidin, yang sedang kunker (kunjungan kerja), telah mencoreng marwah dan kehormatan DPRD Kota Batam.

Mirisnya, perbuatan asusila atau ‘mesum’ itu berlangsung di ruang kerja Zainal Abidin, pada saat jam kerja pula. Zainal Abidin pun murka, dia meminta kedua staf, yang terlibat asusila dengan dua tamunya, didepak dari gedung wakil rakyat terhormat itu.

Kabag Humas DPRD Batam, Taufik, membenarkan kedua staf mesum itu telah dinonaktifkan. “Arahan Sekwan tidak usah dilanjutkan. Memang dua pegawai itu diberi peringatan (non aktif). Karena baru diduga, masih belum jelas kebenarannya,” kata Taufik, Kamis (2/8/2018).

Perbuatan mesum kedua staf wakil rakyat terhormat itu, terkuak saat salah satu cleaning service di kantor DPRD Batam, Bd, membersihkan ruang kerja Zainal yang berada di lantai 2. Namun, Bd kaget laur biasa begitu menemukan tempat tidur Zainal, salah satu fasilitas untuk istirahat pimpinan DPRD Batam, acak-acakan.

Tidak itu saja, Bd juga menemukan handuk yang ada di ruangan tersebut sudah kotor. Soal sejauh mana perbuatan asusila dua staf DPRD Kota Batam dengan dua anggota dewan yang sedang kunker itu, tempat tidur Zainal Abidin dan handuk kotor itu menjadi saksi bisu.

Peristiwa memalukan ini, tentu tidak bisa berhenti begitu saja. Ya, tidak cukup hanya mendepak dua staf DPRD Kota Batam, JD dan AM. Apalagi tindak asusila merupakan perbuatan pidana.

Direktur Eksekutif Batam Monitoring, Lamsir L. Raja, mendesak Sekretaris DPRD Batam, Asril, juga harus menjelaskan ke publik bagaimana pola rekrutmen yang dilakukan sehingga dua wanita itu bisa menyelinap jadi staf di DPRD Kota Batam.

Baik Zainal Abidin, dan juga Asril, kata Lamsir, harus terbuka ke publik terkait dua anggota
dewan yang telah mencoreng wajah marwah DPRD Kota Batam itu.

“Bagaimana keduanya hingga bisa menyelinap mendapat fasilitas berbuat ‘mesum’ di ruang kerja Zainal Abidin? Siapa yang mengenalkan kedua staf wanita itu kepada dua pria hidung belang itu? Pertanyaan ini, dan banyak pertanyaan lainnya, akan terus menyeruak di ruang publik Batam,” ungkap Lamsir. “Dan tentu ini butuh penjelasan.”.(red/btd/di).

Berikan komentar anda