Kasus Pengelapan Bebas, Perkara Pencurian Kontainer Yong Toni di Bui 20 Bulan

66

RASIO.CO, Batam – Terdakwa Yong Tony boleh saja divonis bebas dalam kasus dugaan penggelapan aset perusahaan 18 unit chasis 40 feet dan 1 unit Prime Over BP 8816 D D yang bergulir ditahun 2016 lalu.

Namun, kali ini majlis hakim ketua Mangapul Manalu didampingi dua hakim anggota memvonis Yong Tony dengan hukuman 20 bulan penjara, dimana 4 bulan lebih ringan dari tuntutan JPU Ryan 2 tahun penjara.

Dalam amar putusannya, Hakim Mangapul Manalu menyebutkan dalam dakwaan pokok JPU
Perbuatan para Terdakwa adalah tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 363 ayat (1) ke-4KUHPidana tidak terbukti tetapi perbuatan terdakwa menurut hakim terbukti dalam dakwaan alternatif JPU pasal 362 ayat jo pasal 55 ayat(1) ke-1.

Bahwa Yong Tony , Pada pokoknya dakwaan JPU tidak terbukti tetapi dakwaan alternatif
terhadap pembuatan terdakwa menurut hakim terbukti adalah dakwaan alternatif ke dua turut serta membantu pencurian.

Selanjutnya Menimbang berdasarkan keterangan saksi dan keterangan pemeriksaan terdakwa dan barang bukti dipersidangan majlis hakim berpendapat telah terpenuhi dakwaan alternatif tersebut.

Menimbang tidak terbukti dakwaan pokok, maka hal-hal yang memberatkan terdakwa turut serta membantu pencurian serta meresahkan masyarakat dan hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan, menyesali perbuatannya karena belum sempat menikmatinya dan belum pernah dihukum.

“Yong Toni terbukti bersalah tindak pidana turut serta menyuruh melakukan pencurian
menjatuhkan hukuman selamanya masing-masing 1,8 tahun penjara.

“Barang bukti 3 unit mobil truk crane BP 9230 XF, BP 9482 GX, BP 9478 GX dikembalikan
PT.Jasa Marindo Mandiri melalui saksi Suparni dan Kontainer dikembalikan kepada pemiliknya Ariyanti.”tutup majlis hakim Magapul dan diterima terdakwa serta JPU hasil putusan tersebut.

Sementara itu, Sebelumnya, Majlis hakim Pengadilan Negeri Batam ditahun 2016 memvonis bebas Yong Toni dalam kasus dugaan penggelapan aset perusahaan bernilai milyaran .

Polemiknya , dalam kasus terdahulu Yong Toni di vonis bebas hakim, namun anehnya dalam putusan hakim BPKB alat berat dikembalikan terhadap korban tetapi alat berat serta 14 chasis dikembalikan terhadap penadah.

“Putusan hakim membingungkan dimana BPKB dikembalikan terhadap korban sedangkan alat berat dikembalikan kepada penadah dan hingga saat ini jaksa tak bisa eksekusi,” kata salah seorang yang enggan dipublis.

Selain itu, kata sumber, dalam putusan kasasi , vonis putusan terdakwa diperbaiki dimana disebut putusan lepasa atau onslag van recht.

Artinya, segala tuntutan hukum atas perbuatan yang dilakukan terdakwa dalam surat dakwaan jaksa/penuntut umum telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum, akan tetapi terdakwa tidak dapat dijatuhi pidana, karena perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana.

Sumber mengatakan, putusan hakim tersebut terbilang berani, namun dapat juga dijadikan
yurisprudensi karena terhadap kasus serupa penipuan .

Ilustrasinya begini, BPKB mobil milik A lalu disewakan terhadap Si B, oleh si B STNK dan mobil disewakan lagi ke orang lain.

Pertanyaannya, mobil milik siapa? Bisakah mobil jadi milik Si B. Tentu tidak karena BPKB milik si A. Dan putusan hakim tersebut dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim yang lain untuk menyelesaian suatu perkara yang sama.

“Dalam kasus ini kira2 begitu, dimana dalam putusan BPKB dikembalikan terhadap korban
namun alat berat dikembalikan ke penadah , sehingga bermasalah saat perpanjangan STNK dan sampai saat ini barang tersebut disegel di batuampar,”

“parahnya oknum hakim menagani perkara Yong Tony sudah pensiun dini,”ujarnya.

Sementara itu, perkara dugaan penggelapan aset perusahaan oleh Yong Tony sampai perkara masuk kepengadilan negeri Batam tahun 2016 berujung vonis bebas terhadap terdakwa begini.

Yong Toni merupakan direktur formalitas di PT.TMB yang bergerak dibidang jasa penyewaan alat berat. Namun tampa sepengetahuan pemegang saham lainnya diduga menjual aset perusahaan PT.TMB terhadap rekan bisninya NG Paulo yang merupakan GM PT.Terminal Depo Logistik.

Berupa 18 (delapan belas) unit chasis 40 feet dan 1 (satu) unit Prime Over BP 8816 D D
nomormesin RFB-111504, nomorrangka CK520 BNT 00348, merek Nissan, tahun 1993 warna kuning yang dilakukan tanpa melalui persetujuan RUPS PT tata Murdaya Bersama.

Barang-barang berupa 18 (delapan belas) unit chasis 40 feet tersebut dan 1 unit Primeover BP 8816 D tersebut merupakan kepunyaan atau aset PT Tata Murdaya Bersama.

Atau setidak-tidaknya bukan lah kepunyaan terdakwa sesuai dengan dokumen kepemilikan
barang antara lain STNK dan BPKB 1 unit Primeover BP 8816 D adalah atas nama PT Tata
Murdaya Bersama, sedangkan 18 unit chasis 40 feet dibeli pada tanggal 27 November 2006 di King Ley Machinery PTE LTD Singapore atas nama PT Tata Murdaya Bersama.

Yong Tony kala itu menawarkan kepada NG Paulo Chasis 40 Feet seharga Rp. 50 juta per unitnya sehingga total 18 unit chasis 40 feet ditawarkan seharga Rp900 juta.

Sedangkan 1 unit Primeover BP 8816 D ditawarkan oleh terdakwa dengan harga Rp. 150 juta. NG Paulo menyetujui untuk membelinya,

Sehingga sekitar bulan Agustus 2010 Yong Tony mengantarkan 18 unit chasis 40 feet dan 1 (satu) unit Primeover BP 8816 D tersebut dari PT Tata Murdaya Bersama dan dibawa ke PT Terminal Depo Logistik di jalan Lumba-luma nomor 1 Batu Ampat Kota Batam.

Dengan alasan untuk disewakan, padahal terdakwa menjual barang-barang tersebut.
Pembayarannya dilakukan oleh NG Paulo secara bertahap.

Bergulir dipersidangan dan Majlis hakim memvonis bebas terdakwa pada agustus 2016, walaupun JPU kala itu menuntut 4 tahun penjara dan kini disidang kembali dlam kasus pencurian kontainer di Barelang, akankah bebas lagi?.

APRI@www.rasio.co

Berikan komentar anda