Kasus Tangki Meledak: Saksi Akui Sefety PT.ASL Lemah

197

RASIO.CO, Batam – Dua saksi Fernando dan Suyitno mengakui sefety dan pengawasan pekerja yang diduga difasilitasi PT.ASL lemah serta tidak sesui Standart ketenagakerjaan. Senin13/08).

Hal ini terungkap dipersidangan beberapa waktu lalu dengan majlis hakim ketua
DR.Syahlan.SH.MH didampingi dua hakim anggota di PN. Batam.

“Hasil investigasi internal ada dugaan kebocoran pipa lama sehingga Tanki meledak dan
memakan korban David ,” Kata Fernando diruang sidang utama PN Batam.

Untuk perencanaan pengerjaan penggelapan di tangki kapal MT. Succes Energy XXXII terbakar di area Kerja milik PT. ASL Shipyard Tanjung Uncang. dirinya sebagai pengawas sudah melakukan pengecekan sebelum dilakukan pengerjaan oleh korban David.

“Ketika korban mengatakan ada bau gas saat akan memulai pekerjaan kami tidak tahu,”Kata Saksi lagi.

Dari kesaksiannya, saksi Fernando yang telah ditetapkan tersangka oleh polisi dalam hal ini
(berkas terpisah) juga berbelit-berbelit, karena apa yang dijawabnya saat sidang ini, tidak sesuai dengan keterangannya di dalam BAP.

Tak hanya saksi Fernando, saksi Suyitno juga demikian. Kesaksiannya dalam persidangan ini juga berbelit, kesannya seperti ingin membela kepentingan PT. ASL seakan perusahaan itu tidak terlibat dalam kasus ini sehingga membuat Jaksa dan hakim merasa berang terhadap ke dua saksi.

“Yang ditanya saja yang dijawab, saksi jangan menjawab mutar-mutar. Apakah anda mau tidak pulang hari ini? Kalau apa, biar kami buatkan surat penahanan saudara,” kata hakim Syahlan saat sidang mengingatkan para saksi.

Setelah usai mendengarkan kesaksian dari dua saksi ini, Hakim Syahlan lalu menjadwalkan
sidang berikutnya pada tanggal 13 Agustus 2018. Namun sebelum palu diketuk, ia
menyampaikan pesan kepada pihak PT.ASL melalui kedua saksi agar korban David Cristopher diperhatikan.

“Kepada saksi, mohon disampaikan ke pihak PT. ASL supaya dapat memperhatikan keadaaan korban saat ini. Jangan cuma ke PT Dynamik Overseas saja,” pinta hakim Syahlan.

Terhadap keterangan kedua saksi, kepada hakim, terdakwa mengatakan tidak ada keberatannya.

Dalam perkara ini, kedua terdakwa Ronald Robert Alexzander Mangera dan Dewi Wulandari yang tidak ditahan ini, diancam pidana pasal 360 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara denda Rp 400 juta atau pasal 186 ayat (1) jo Pasal 35 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

APRI@www.rasio.co

Berikan komentar anda