Komisi IV DPRD Batam Minta Batalkan Sekolah Tatap Muka Pertengahan Agustus Ini

0
14
foto/ist

RASIO.CO, Batam – Komisi IV DPRD Kota Batam minta Walikota Batam dalam hal ini melalui Dinas Pendidikan untuk membatalkan rencana untuk memulai sekolah tatap muka pada pertengahan agustus 2020 ini.

Pasalnya, saat ini penyebaran virus Corona di Kota Batam meningkat lagi dan bahkan Kecamatan Batam Kota masuk pada zona merah lagi karena pasien positif terus bertambah, baik dari temuan kasus baru maupun dari cluster yang ada.

Hal tersebut disampaikan oleh ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Ides Madri dari fraksi partai Golkar kepada haluankepri.com, Rabu (5/8).

Dikatakan Ides, selain itu sebab pihaknya meminta Pemko Batam untuk membatalkan rencana memulai sekolah tatap muka itu pada saat ini ialah, karena anak-anak khususnya SD dan SMP masih belum bisa menjaga dirinya untuk melakukan protokol kesehatan.

Yaitu seperti masker, sering cuci tangan, jaga jarak dan mereka rentan terhadap penyakit. Selain itu kesiapan sekolah untuk menjaga jarak dengan jumlah siswa yang ada satu kelas maksimal 15 orang dalam 1 ruangan dan itupun harus sirkulasi terbuka.

“Jika Pemko Batam tetap memaksakan sekolah tatap muka pada bulan agustus ini seperti yang telah direncankannya pada beberapa hari yang lalu orang tua murid tidak akan mengizinkan anaknya berangkat ke sekolah. Pemerintah harus memikir ulang lagi,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemko Batam akan membuka kembali sekolah-sekolah untuk para siswa di pertengahan Agustus 2020 ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Walikota Batam, Muhammad Rudi saat melakukan pertemuan dengan kepala sekolah di Dataran Engku Putri Batam Centre, Kamis (30/7/2020).

“Intinya kita sepakat membuka kembali sekolah. Teknisnya nanti diatur sekolah bersama Kepala Dinas Pendidikan. Nanti hasilnya dilaporkan ke saya, lalu saya teruskan ke Forkopimda,” ucap Rudi.

Disampaikan Rudi, beberapa opsi aturan saat sekolah tatap muka diberlakukan di tengah pandemi Covid-19 antara lain dengan membatasi jumlah siswa per kelasnya.

Yakni dari maksimal 40 orang per kelas menjadi 20 orang saja. Konsekuensinya jadwal sekolah harus dibagi menjadi dua, pagi dan siang. Atau dibuat satu hari sekolah, satu hari tidak, secara bergantian.

“Untuk sekolah yang memang sudah ada dua shift, kelas pagi dan siang, bisa dilaksanakan dengan memperpendek jam belajar. Misal biasanya 6 jam nanti dibuat jadi 3 jam. Tak perlu ada jam istirahat. Setelah belajar langsung pulang,” ujar Rudi.

Ditambahkannya, kebijakan itu diambil karena banyak orang tua yang menyampaikan protes dan keluhan padanya. Yaitu tidak sedikit orang tua yang merasa kesulitan dan terbebani dengan kegiatan belajar di rumah.

“Banyak orang tua protes, biaya makin besar karena harus beli pulsa atau kuota. Selain itu bagi yang tak punya Handphone standar, harus beli lagi. Jadi pandemi covid-19 ini makin berat buat mereka. Oleh karena itu meskipun Batam tak hijau, nanti akan kita buka. Tapi sekolah harus disiapkan betul-betul,” pungkas

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY