Korupsi Musuh Peradapan

0
66
foto/kpk.go.id

RASIO.CO, Jakarta – Korupsi merupakan ancaman terbesar bagi masa depan bangsa. Korupsi politik bahkan dinilai bisa membuat ekonomi negara menjadi bangkrut karena sendi-sendi kekuasaan itu telah digrogoti oleh koruptor yang berada diarea kekuasaan.

Hal itu diungkapikan ekonom senior Faisal Basri saat kegiatan NGOBRAS atau Ngobrol Santai Antikorupsi di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta.

“Tidak ada lagi Check and Balance. Kemudian terjadi systemic corruption, organized corruption dan tiba-tiba nanti ekonomi kita bangkrut,” ujar Faisal dikutip dari kpk.go.id. Sabtu(12/10).

Menurutnya korupsi politik adalah hal yang sangat menakutkan. Sebab, korupsi tersebut telah melibatkan pembuat keputusan politik dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang di milikinya.

“Kita lihat motif korupsi itu yang paling mengerikan. Kelompok-kelompok itu yang mengeruk uang negara tak kenal batas.”

Menurutnya, korupsi politik membuat kaum elit bisa mempengaruhi pemerintah untuk membuka ruang agar terjadi berbagai eksploitasi sumber daya yang justu menguntungkan kaum elit.

Maka dari itu, Faisal menyebutkan bahwa korupsi adalah musuh peradaban. Bukan hanya mengikis peradaban tapi juga membuat sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tidak bisa menyejahterakan rakyat.

“Pemusatan sumber daya ekonomi berada di segelintir orang yang senantiasa berupaya melanggengkan kekuasaan dengan mencari perlindungan atau dukungan politik,” ungkapnya.

Faisal lalu menjelaskan teori yang diperkenalkan Martin Wolf, yaitu rentier capitalism yang menjelaskan bahwa pasar dan kekuasaan politik akan memberikan individu atau pengusaha yang diistimewakan untuk mengeruk uang negara sebesar-besarnya.

Hal itulah yang menurut Faisal menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi lambat atau cenderung lemah. Menurutnya, sudah seharusnya lembaga antirasuah harus kuat dan kokoh demi memberantas musuh bersama, yaitu korupsi. “Lembaga seperti KPK bukan penghambat pertumbuhan ekonomi, melainkan akselelator pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.

***

LEAVE A REPLY