Managemen Nuvasa Bay Pecat Arison Akibat Tipu WNA

Perbuatan Terdakwa Tidak Ada Kaitan dengan Nuvasa Bay

0
481

RASIO.CO, Batam – Managemen Nuvasa Bay Pecat terdakwa Arison Andreas Simarmata sebelum kasusnya masuk keranah hukum karena diduga melakukan penipuan terhadap warga negara Malaysia Cheung Chung Yeung Peter Als Pieter senilai Rp.162 juta.

Menurut Steven Japari General Manager Nuvasa Bay, terdakwa memang pernah bekerja di perusahaannya, namun diketahui diduga melakukan penipuan sehingga merugikan orang lain , dan dilakukan pemecatan.

“Kami menilai perbuatannya(red-Arison) saat kejadian merupakan tindakan sendiri/pribadi dan diluar sepengetahuan perusahaan dan tidak ada kaitannya dengan Nuvasa Bay,”

“Dan terdakwa kami berhentikan sajak Januari 2019,” Kata Steven Japari di Nuvasa Bay, Nongsa. Kamis(10/04) kemarin.

Piter mengatakan, bahwa perbuatan terdakwa Arison jelas telah merugikan orang lain, maka kami tidak bertanggung jawab atas perbuatan melawan hukum yang merupakan tindakan pribadi yang bersangkutan.

“Untuk itu menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang sedang berlangsung,”

“Dan terdakwa memang pernah bekerja lebih kurang dua tahun disini,”pungkas Piter.

Diberitakan sebelumnya, Bahwa berawal pada bulan April tahun 2018 saksi Asrawati menghubungi terdakwa untuk menjualkan apartemen 7-A01 milik saksi Asrawati yang terletak di Nuvasa Bay.

Beberapa hari kemudian pada bulan April 2018 saksi korban Cheung Chung Yeung Peter Als Pieter Als Chief bertemu dengan terdakwa Arison Andreas Simarmata Als Andre di Nuvasa Bay Kel. Sambau Kec. Nongsa Kota Batam.

Pada saat pertemuan tersebut terdakwa mengatakan kepada saksi korban bahwa ada 1 unit apartemen 7-A01 milik saksi Asrawati di Nuvasa Bay akan dijual , akan tetapi pada saat itu saksi korban tidak menghiraukan tawaran tersebut.

Sekira akhir bulan Mei 2018 terdakwa kembali menghubungi saksi korban melalui handphone mengatakan bahwa ada yang ingin menjual apartemennya dengan cara mengalihkan hak atau mengganti nama dengan harga sebesar Rp.844.267.000,- dan pada saat itu terdakwa mengatakan harga nya murah dan sayang kalau tidak diambil dan apartemennya bagus menghadap kelaut.

Mendengar perkataan terdakwa tersebut saksi korban menjadi tertarik sehingga saksi korban ingin membeli apartemen 7-A01 tersebut.

Bahwa selanjutnya pada tanggal 19 April 2018 terdakwa menghubungi saksi Asrawati mengatakan bahwa sudah ada pembeli apartemen 7-A01 dan menyetujui penjualan tersebut.

Bahwa kemudian pada tanggal 1 Juni 2018 saksi korban menghubungi terdakwa yang sedang berada di Nuvasa Bay mengatakan akan mentransfer uang secara bertahap untuk pembelian unit apartemen tersebut.

Tidak berapa lama kemudian saksi korban mentransfer uang sejumlah US$6.300,-(enam ribu tiga ratus dollar Amerika) yang ditransfer melalui Bank HSBC via internet banking ke Bank BCA A. Arison Andreas Simarmata dengan nomor rekening 8730252049 .

Bahwa selanjutnya pada tanggal 4 Juli 2018 saksi korban datang ke Batam dan bertemu dengan terdakwa untuk melunasi pembelian unit apartemen tersebut , dan pada saat saksi korban diajak melihat pembangunan unit apartemen dinuvasa bay saksi korban kembali menyerahkan uang sebesar US$5.500 (lima ribu lima ratus dollar Amerika).

Merasa curiga korban datang ke Nuvasa Bay dan bertemu dengan saksi Ari Wijayanti sebagai Section Head Divisi Finance di PT. AFP Dwi Lestari sebagai penjual properti di Nuvasa Bay.

Dan menanyakan apakah apartemen 7-A01 di Nuvasa Bay apakah sudah dialihkan kepada saksi korban karena telah menyerahkan uang kepada terdakwa dan oleh saksi Ari Wijayanti menjelaskan bahwa apartemen 7-A01 masih milik saksi Asrawati dan tidak pernah dialihkan kepada saksi korban.

Bahwa mendengar penjelasan saksi Ari Wijayanti tersebut saksi korban mengetahui bahwa uang pembelian apartemen 7-A01 tersebut tidak pernah diserahkan kepada perusahaan maupun kepada saksi Asrawati selaku pemilik apartemen 7-A01 tersebut melainkan telah dipergunakan terdakwa untuk kepentingan .

Bahwa setelah terdakwa menerima sebahagian uang pembelian unit apartemen 7-A01 tersebut terdakwa tidak menyerahkan uang tersebut kepada saksi Asrawati akan tetapi dipergunakan terdakwa untuk kepentingan pribadi terdakwa.

Bahwa akibat perbuatan terdakwa mengakibatkan saksi korban mengalami kerugian sebesar Rp.162.193.394 dan Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana sebagaimana dimaksudPasal 372 KUHP.

APRI@www.rasio.co //

LEAVE A REPLY