Manfaat daging kambing untuk kesehatan

23

RASIO.CO, Batam – Hari raya Iduladha identik dengan menyembelih hewan kurban, kemudian mengonsumsi dagingnya, salah satunya adalah kambing. Di Indonesia, daging kambing bisa diolah menjadi berbagai masakan, seperti satai, gulai, tengkleng atau tongseng.

Di balik kelezatannya, banyak orang khawatir makan daging kambing karena dapat menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Benarkah makan kambing bisa sebabkan hipertensi dan apa saja manfaat yang terkandung di dalamnya?

Tunggul D. Situmorang, dokter spesialis penyakit dalam, mengatakan tidak benar makan daging kambing menyebabkan hipertensi. Menurut Tunggul, mitos makan daging kambing menyebabkan darah tinggi ini bisa dipicu proses pengolahan.

Penggunaan garam dalam mengolah daging kambing membuat sodium makin tinggi. Inilah yang menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.

“Faktor penyebab hipertensi jelas garam. Ketika ada orang yang terkena hipertensi dan tidak diketahui penyebabnya apa, itu pasti karena konsumsi garam berlebih. Apalagi jika ada riwayat keluarga terkena hipertensi, ini dikatakan hipertensi primer. Sembilan puluh persen penderita hipertensi karena hipertensi primer,” ujarnya.

Dilansir Healthline, daging kambing terdiri dari protein, tetapi juga mengandung lemak. Dalam 100 gram daging kambing panggang, mengandung 25,6 gram protein dan 16,5 gram lemak.

Daging kambing merupakan sumber protein berkualitas tinggi karena mengandung semua asam amino esensial yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh.

Jumlah lemak dalam daging kambing sebenarnya beragam, tergantung pada usia, jenis kelamin, dan pakan hewan. Kandungan lemak bisa berkisar dari 17-21 persen, terdiri dari lemak jenuh dan tak jenuh tunggal dalam jumlah yang kurang lebih sama.

Selain protein dan lemak, daging kambing juga kaya vitamin dan mineral, antara lain vitamin B12 yang penting untuk pembentukan darah dan fungsi otak dan vitamin B3 atau niasin. Kekurangan niasin telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

Untuk mineral, ada zinc yang penting untuk pertumbuhan dan pembentukan hormon, seperti insulin dan testosteron. Ada juga zat besi, fosfor, dan selenium.

Selain vitamin dan mineral, daging kambing juga mengandung sejumlah nutrisi bioaktif dan antioksidan. Ada creatine sebagai sumber energi untuk otot dan taurin untuk jantung dan otot.

Makan daging kambing bisa membantu tubuh dalam pemeliharaan massa otot, terutama pada orang tua. Ini tentunya perlu bersamaan dengan gaya hidup sehat seperti olahraga yang cukup dan mengonsumsi makanan tinggi protein.

Kemudian, makan daging kambing juga bisa jadi pilihan untuk terhindar dari anemia. Sebab, orang mengalami anemia karena kekurangan zat besi. Sementara itu, daging kambing merupakan sumber zat besi.

Batas makan daging kambing

Melihat ada banyak manfaat daging kambing, maka makanan ini sebaiknya tidak dihindari. Namun, tetap perhatikan jumlah konsumsinya.

Menurut Prof. Dr. Nuri Andarwulan, Direktur SEAFAST Center, maksimal konsumsi satai kambing adalah 10 tusuk dalam sehari.

Kata ahli gizi Leona Victoria Djajadi, porsi makan harian daging kambing sama saja dengan daging merah lain, yaitu 65-90gram daging yang sudah dimasak dan boleh makan 2-3 kali seminggu.

Kolesterol akan naik jika daging kambing yang disantap juga dalam jumlah yang berlebihan serta dikonsumsi dengan olahan daging lain atau makanan berlemak jenuh lain.

Ahli gizi Dian Permatasari mengatakan bahwa siapa saja, termasuk penderita penyakit kronis masih dapat mengonsumsi daging kambing. Paling penting adalah tahu batasan dan tak boleh berlebihan.

“Sebenarnya, tidak ada orang yang terlarang makan daging kambing. Tergantung bagian mana yang dimakan. Daging tanpa lemak kan tidak terlalu berbahaya,” ujarnya.

Anda juga bisa memasak daging kambing dengan pilihan yang lebih sehat. Saat akan memasak, potong sebanyak mungkin lemak. Kemudian, jangan menggoreng daging karena menambah lebih banyak lemak dan kurang sehat. Kata Dian, bagian daging tanpa lemak bisa ambil bagian paha atas dan bahu.(red/ba/di).

APRI@www.rasio.co

 

Berikan komentar anda