Mengenal Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta

27

RASIO.CO , Jakarta – Ba’da shalat Dhuhur berjamaah, di sudut serambi sebelah selatan Masjid Baiturrahim, sejumlah pegawai duduk melingkar, membaca Al Qur’an bersama-sama dengan metode tahsin satu per satu membaca kemudian diperhatikan dan dibenarkan oleh seorang ustadz jika terdapat kesalahan dalam membaca, lalu melantunkannya bersama-sama juga. Mereka melantukan ayat-ayat Al Qur’an, bergantian. Di sudut serambi yang lain beberapa orang duduk bersandar membaca Al Qur’an masing-masing. Di tempat ini mereka memanfaatkan waktu istirahat siang untuk menenangkan diri, menghadap Sang Kuasa.

Seusai tahsin, penulis bertemu dengan Bapak H. Sudarjat, salah satu pengurus masjid yang ternyata juga pegawai di Biro Umum Sekretariat Presiden. Panjang lebar Beliau bercerita sejarah dan kegiatan-kegiatan yang biasanya diadakan di masjid yang terletak di sebelah barat Istana Merdeka tersebut.

Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta dari Masa ke Masa

Bapak H. Sudarjat mulai bercerita, Masjid ini dikatakannya didirikan pada masa Presiden Soekarno. Dahulu sebelum dibangun menjadi masjid, lahan ini merupakan lapangan tenis. Terdapat keunikan dari Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta, yang hingga kini masih tampak. Letak masjid seolah tidak sesuai dengan arah kiblat jika dipandang dari luar. Pada masa pembangunannya sejak tahun 1959 hingga 1961, Presiden Soekarno memang mengharapkan bangunan masjid dapat dibuat simetris dengan bangunan Istana Merdeka yang dibangun jauh sebelum kemerdekaan.

Hal tersebut kemudian dikonsultasikan dengan para ulama waktu itu, yaitu ayah dari Habib Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang dan KH. Sidiq Fauzi dari Kuningan. Akhirnya pembangunan disepakati dengan ketentuan ketika shalat, posisi jamaah harus serong ke kanan menyesuaikan dengan arah kiblat yang tepat.

Tahun 1978, pada masa Presiden Soeharto, atas arahan dan petunjuknya yang disampaikan melalui Mensesneg Alamsyah Ratu Prawira Negara, kegiatan ibadah di Masjid Baiturrahim terus digalakkan. Berbagai kegiatan ibadah baik shalat lima waktu, maupun shalat jumat diselenggarakan. Kegiatan amaliah di Bulan Ramadhan pun dibuka untuk masyarakat umum, menyesuaikan dengan aturan pengamanan yang berlaku.

Selang beberapa tahun, jumlah jamaah Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta semakin bertambah. Pada tahun 1997, untuk meningkatkan kapasitas, sisi selatan masjid diperluas. Upaya tersebut dilakukan pada masa Kepala Rumah Tangga Kepresidenan Bapak H. Maftuh Basyuni. Dengan perluasan tersebut, Masjid Baiturrahim menjadi seluas 580,3 m2 dan dapat menampung kurang lebih 750 jamaah.

Pada tahun 2008 dilakukan pengukuran atau penyesuaian arah kiblat yang dilakukan oleh petugas dari Kementerian Agama RI. Pengukuran atau penyesuaian arah kiblat tersebut menggunakan metode istiwa/menggunakan arah sinar matahari dan menggunakan alat ukur teodolit, GPS, dan Kompas. Pembenahan tidak berhenti di situ. Dikarenakan terus meningkatnya jamaah, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono renovasi untuk menambah kapasitas kembali dilakukan. Setelah proses renovasi selesai, Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta kembali diresmikan pada 1 Oktober 2010. Pada peresmian yang bertepatan pada hari Jumat tersebut, Imam Besar Masjidil Haram Syeikh Ali Bin Abdur Rahman Al-Hudhaify yang tengah berkunjung ke Istana Negara sempat menjadi imam shalat Jumat.

Khusyuk di Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta

Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta rutin digunakan para pegawai di lingkungan Istana untuk menunaikan shalat rawatib sebagaimana mestinya. Seperti halnya di masjid-masjid lain, pengurus Masjid Baiturrahim juga bertugas mengumandangkan adzan penanda masuk waktu shalat. Meskipun volume speaker masjid harus disesuaikan jika tengah ada kunjungan kenegaraan.

Tiap hari Jumat, Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta kerap menjadi tujuan bagi pegawai, tamu Istana, dan masyarakat sekitar untuk menjalankan shalat Jumat. Cukup sering pula Presiden, Wakil Presiden, dan sejumlah Menteri hadir menjalankan shalat Jumat bersama. Untuk menjamin keamanan dan kenyamanan, petugas Paspampres tetap bertugas melakukan pemeriksaan pengunjung sebelum masuk. Namun jangan dibayangkan pemeriksaan atau penjagaan militer yang menegangkan. Tempat penitipan handphone pun disediakan agar pengunjung dapat khusyuk menjalankan shalat Jumat.

Pengurus Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta pun sudah mengatur jadwal rutin imam dan khatib Shalat Jumat di Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta. “Kami sudah mengatur jadwal imam dan khatib Jumat selama satu tahun, terdiri dari tiga unsur yaitu ulama, akademisi, dan birokrasi,” ujar Bapak H. Sudarjat.

Sementara itu pada bulan Ramadhan, Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta juga dibuka untuk masyarakat umum dengan aturan yang berlaku. Bagi jamaah yang hendak ikut berbuka puasa dan menjalankan Shalat Tarawih misalnya, masjid dibuka sejak sore hari, pukul 17.00 hingga pukul 21.00 WIB. Sementara itu pada peringatan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta juga dibuka untuk umum yang akan beribadah Shalat Ied mulai pukul 05.00 hingga 08.30 WIB.

Panjang lebar Bapak H. Sudarjat bercerita, diiringi angin yang bertiup lembut membuat penulis terbawa suasana. Terbayang suasana syahdu berada di tengah jamaah Shalat Ied Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta, lantas melangkah untuk bersilaturahim dengan para jamaah dan Bapak Presiden. Cuitan burung seketika menyadarkan penulis dari lamunan. Tidak terasa waktu cepat beranjak, penulis pun undur diri, berjalan beriringan dengan jamaah lainnya.

Sembari berjalan dengan seorang pegawai dari gedung sebelah, penulis sempat berbincang ringan. Bercanda. Di tengah kesibukan pekerjaan yang padat, kami tetap beribadah dengan khusyuk di Masjid Baiturrahim Istana Kepresidenan Jakarta seperti bias

Apri @www.rasio.co |Setneg

Berikan komentar anda