Pemerintahan Jokowi Belum Mampu Capai Target Penurunan Kemiskinan

0
61

RASIO.CO, Jakarta – Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) belum mampu mencapai angka penurunan kemiskinan sesuai target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Dari target angka kemiskinan 7-8 persen, pemerintah hanya mampu menekan hingga, 9,41 persen hingga Maret 2019, dari semula 10,96 persen dari September 2014.

Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Berly Martawardaya mengatakan, upaya menurunkan kemiskinan setelah menembus satu digit memang lebih sulit dibanding ketika masih belasan persen.

“Jadi perlu terobosan baru,” kata Belry dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (16/7) dilansir Tempo.co.

Ia menyarankan pemerintah mengambil pelajaran dari 5 tahun ke belakang, untuk menyusun target kemiskinan di RPJMN 2019-20124.

Dengan angka kemiskinan 9,41 persen, penurunan kemiskinan hanya sekitar 1,55 persen saja, dari target penurunan 2,96 sampai 3,96 persen. Bahkan dengan mengambil batas atas target di 8  persen, dan masih ada waktu 6 bulan lagi sampai data September 2019 keluar, pengentasan kemiskinan selama 4,5 tahun di Jokowi periode pertama hanya tercapai 52,4 persen dari target.

Berly lalu membandingkan penurunan kemiskinan era Jokowi dengan 4,5 tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY pada periode kedua. Di zaman SBY, angka kemiskinan turun lebih tinggi.

Saat itu, terjadi penurunan kemiskinan dari 13,74 persen menjadi 11,25 persen. Sehingga, total penurunan adalah sebesar 2,49 persen, atau 1,6 kali lipat lebih tinggi dari capaian Jokowi.

Berly juga mengatakan saat ini masih ada 8 provinsi dengan tingkat kemiskinan absolut melebihi 1,5 kali kemiskinan nasional.

“Ini merupakan pekerjaan rumah penting dan harus jadi prioritas kerja pemerintah yang membutuhkan langkah-langkah sigap, inovatif dan komprehensif,” ujarnya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah terus melaksanakan sejumlah program untuk menekan angka kemiskinan. Di antaranya, program terkait tanah dan manajemen program pertanian.

“Intinya semakin lama bukan semakin mudah, kalau masih tinggi tingkat kemiskinan menurunkannya enggak susah, tapi makin rendah makin susah,” ujar dia. “Banyak yang harus disiapkan.”

***

LEAVE A REPLY