Penularan Virus Mongkeypox Belum Ditemukan Dikepri

0
137

RASIO.CO, Tanjungpinang – Kepala Dinkes Kepri Tjetjep Yudiana memastikan sampai sekarang belum menemukan orang yang menderita penyakit cacar monyet yang sedang menjadi perbincangan banyak orang karena penyebarannya sudah sampai negara Singapura.

“Isu terkait seorang warga asing dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Batam karena positif cacar monyet, tidak benar,” Kata Tjetjep Yudiana di kepriprov.go.id. Kamis(16/05).

Kata dia, Saat ini, menurut dia negara terdekat Kepei yang sedang menangani penderita cacar monyet yakni Singapura.

“Ada 24 orang warga asing, 18 orang di antaranya berkebangsaan Nigeria, dirawat di Singapura secara intensif karena mengidap penyakit itu. Kita khawatir virus itu dibawa penderita ke Kepri, karena wilayah ini berdekatan dengan Singapura maupun Malaysia,” katanya.

Upaya pencegahan tetap dilakukan, terutama di pintu keluar masuk wilayah ini, meski belum ditemukan ada warga asing yang terinfeksi virus cacar monyet.

Pengawasan di pelabuhan, contohnya, dilakukan oleh tim kesehatan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan. Tim kesehatan di pelabuhan juga dilengkapi alat pendeteksi suhu tubuh manusia.

“Hari ini kita sudah rapat dengan berbagai pihak terkait pencegahan dan penanganan cacar monyet. Kita sudah sepakati langkah-langkah penanganannya, meski tidak kita harapkan penyakit itu masuk ke Kepri,” ujarnya.

Salah satu langkah awal penanganan cacar monyet yakni pengenalan cacar monyet. Seluruh tim kesehatan, termasuk kepala puskesmas wajib mengetahuinya. Kepala puskesmas harus lebih rajin mengawasi pasien, terutama yang memiliki gejala yang sama dengan cacar monyet.

“Di Kepri sudah ada ruang khusus penanganan cacar monyet. Dokter khusus yang menangani penyakit ini juga ada,” katanya.

Sementara itu, Informasi awal monkeypox kali pertama diidentifikasi tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo (dulu Zaire). sejak tahun 1970, monkeypox terjadi pada 10 negara.

Afrika Republik Demokratik Kongo, Rep Kongo, Kamerun, Rep Afrika Tengah, Nigeria, Pantai Gading, Liberia, Sierra Leone, Gabon dan Sudan Selatan. Monkeypox di luar Afrika, 2003 di AS, tahun lalu dua kasus di Inggris dan satu di Israel.

Sedangkan, Penularan cacar monyet, terjadi akibat kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa pada hewan yg terinfeksi (kera, tikus dan tupai). Selain itu, makan daging hewan terinfeksi (masak tidak matang) juga faktor risiko terkena virus.

Penularan sekunder dari manusia ke manusia, akibat kontak langsung dengan lendir dari saluran pernapasan orang yg terinfeksi, lesi kulit orang yg terinfeksi/benda yang terkontaminasi cairan yang dari tubuh pasien atau dari lesi.

Penularan melalui partikel pernapasan, butuh kontak tatap muka berkepanjangan, sehingga anggota rumah tangga orang terinfeksi berisiko terkena lebih besar.

Gejala Monkeypox, masa inkubasi cacar monyet (interval infeksi s/d timbul gejala) 5 sd 21 hari dan Infeksi terbagi dua periode, Periode invasi (0-5 hari) ditandai demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yg intens (kekurangan energi).

Selanjutnya, Periode erupsi kulit ( 1-3 hari setelah muncul demam) berbagai ruam muncul, mulai wajah menyebar ke bagian tubuh.Wajah (95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (75% kasus) paling terpengaruh.

Evolusi ruam maculopapules (lesi dg basis datar) ke vesikel (lepuh isi cairan kecil), pustula, diikuti kerak terjadi sekitar 10 hari. Mungkin perlu waktu tiga minggu sebelum semua itu lenyap dari kulit.

Jumlah lesi bervariasi dari sekian sampai dengan beberapa ribu, mempengaruhi membran mukosa mulut (70% kasus), genitalia (30%), konjungtiva (kelopak mata) (20%), serta kornea (bola mata). Beberapa pasien alami limfadenopati parah (bengkak kelenjar getah bening) sebelum muncul ruam ciri khas cacar monyet dibanding penyakit serupa lainnya.

Sementara itu, Pencegahan agar tidak tertular cacar monyet, Hindari kontak dg tikus dan primata terinfeksi, serta batasi paparan langsung thd darah dan daging yg tidak dimasak dgn baik.

Batasi kontak fisik dgn orang terinfeksi atau hindari bahan terkontaminasi, Pakai sarung tangan dan pakaian pelindung saat merawat orang sakit atau tangani hewan yg terinfeksi. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Pengobatan dan vaksin : Tidak ada perawatan khusus atau vaksin untuk cacar monyet. Wabah cacar monyet sejauh ini masih dapat dikendalikan. Vaksinasi cacar terbukti 85 persen efektif mencegah cacar monyet di masa lalu.

Penyakit cacar monyet biasanya sembuh sendiri dari gejala 14 sampai dengan 21 hari. Kasus parah terjadi lebih sering pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan dan tingkat keparahan komplikasi pasien. Untuk kasus kematian terjadi bervariasi, infonya 10% kasus sebagian besar anak-anak.

APRI@www.rasio.co //

LEAVE A REPLY