Petani Kelapa Natuna Berharap Transportasi Kapal Barang Beroperasi

0
635
foto/ist

RASIO.CO, Paska Pemkab Natuna mengeluarkan kebijakan penghentian sementara beroperasinya kapal angkuatan barang maupun penumpang untuk memutus mata rantai berkembangnya COVID-19, Petani Kelapa Natuna mengalami kerugian bahkan terancam kolap.

Selain itu Pemkab natuna juga memberhentikan PELNI untuk sementara waktu mengingat larangan mudik dari pemerintah pusat dan pencegahan Covid 19, namun kami petani kelapa berharap Bupati sekali saja membuka transportasi angkutan barang Sabuk Nusantara 80 untuk mengangkut kelapa kedaerah kepulauan lainnya.

Mengingat kebijakan yang sebelumnya disampaikan adalah membolehkan kapal barang Sabuk Nusantara 83 masih bisa beroprasi dengan catatan tidak diperbolehkan mengangkut penumpang selain logistik dalam hal ini adalah Hasil Pertanian milik masyarakat yang akan di distribusikan ke berbagai daerah seperti Tanjungpinang, Kalimanatan dan Tarempa.

Pasalnya, agribisnis yang berbasis monokultural yang dijalani hampir seluruh Petani yang menjalankan roda bisnis nya secara mandiri dan memiliki link dan relasi yang ada di Tanjungpinang, Bintan, Anambas, dan Kalimantan sebagai penampung hasil pertanian milik masyarakat tani.

Saat ini mengalami dilema akibat pemberhentian Kapal logistik Sabuk Nusantara 80 yang saat ini (Kamis14/5) masih bersandar di Pelabuhan Kijang seiring menunggu perintah Bupati Kabupaten Natuna membolehkan untuk kembali beroprasi.

Salah seorang agen penampung Kelapa Petani Pulau Midai, Suharman (51) sangat merasakan dampak terbesar dari kebijakan tersebut karena hampir 15.000 buah kelapa yang saat ini bersandar di gudang miliknya terkendala akibat tidak beroprasinya Armada pengangkut Logistik yang biasa ia gunakan sebagai jalan untuk menjalankan agribisnis yang sudah hampir 20 tahun digelutinya.

Suharman (51) mengatakan, Hal ni bukan saye saje yang merasekan, cube banyangkan juge petani yang lain yang ada di midai ni dan pulau-pulau lain di natuna, macam nelayan yang juga biase pakai kapal Sabuk untuk ngantar ikan ke pinang pun ikut berhenti dan merasekan hal yang same.

Terlebih lagi kami dengar kapal akan dijalankan nanti selepas lebaran, bukannya untung malah rugi kami di petani kelapa ni, berape banyak kelapa yang busuk kalau sampai habis raye nanti, lagi pun kelape ni orang pinang dan terempa tu pesan untuk kebutuhan santan mereka masak dihari raya nanti, kalau kelapa ni dikirim lepas raye buat ape lagi kelape ni.

“Saye tau informasi sabuk tak jalan ni dari ‘Chip’ Sabuk 80 yang bersandar di kijang yang lagi menungu perintah Bupati agar dapat beroprasi kembali untuk mengangkut barang yang akan dikirim ke Tanjungpinang dan Tarempa”, ujarnya. Kamis(14/05) .

Kata Dia,
Larangan mudik yang menjadi dasar mengapa Armada Angkut Sabuk Nusantara 80 tidak diperbolehkan beroprasi semantara waktu adalah cara yang tepat untuk memutus penularan Covid19 di wilayah Kabupaten Natuna.

Namun hal tersebut dirasa kurang tepat bagi masyarakat Tani dan Nelayan yang biasa menggunakan armada angkut tersebut sebagai alat transportasi yang biasa digunakan oleh masyarakat sebagai penyambung usaha kerakyatan.

Semakin dekat hari raye ni, semakin dekat pula harapan kami untuk menambah pendapatan untuk hari raya nanti, kalau dah tak ade kapal yang jalan ni bukan nya untung kami malah merugi, Kalau kami sewa kapal dah berapa pula biaya ongkosnya, bukannya untung malah makin rugi besar, karna ongkos cartar kapal bukan nye kecil.

“Jadi harapan kami tolong lah kepada Bupati Natuna untuk memerintahkan Sabuk Nusantara 80 Satu kali “Trip” lagi jalan untuk angkut kami punya pesanan, karna saye rase bukan saye saje yang merasekan hal ni tapi bagi para pembisnis semacam saye ni”, Tutupnya.

Masyarakat Tani pun sangat berharap besar kepada Pemerintah Kabupaten Natuna dalam hal ini adalah Bupati Kabupaten Natuna agar memperbolehkan Sabuk Nusantara 80 kembali beroprasi untuk mengangkut logistik jelang Idul Fitri ini dengan pengawasan yang ketat demi kestabilan perekonomian masyarakat tani yang ada di Kabupaten Natuna.(red/di/ptn).

***

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY