Program Puskesmas Terapung Diperbatasan Kurang Optimal

13

RASIO.CO, Tanjungpinang – Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau menilai program Puskesmas Kesehatan Terapung di seluruh kabupaten dan kota, termasuk di sekitar pulau berbatasan pulau penyangga belum berjalan optimal.

Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Riau (Dinkes Kepri) Tjetjep Yudiana, di Tanjungpinang, Rabu, mengatakan, program peningkatan kualitas kesehatan masyarakat pesisir melalui Puskesmas Terapung tidak efektid dilaksanakan selama ini karena terkendala berbagai persoalan.

Kendala pertama, kata dia menyangkut persoalan anggaran yang besar, yang wajib dikeluarkan setiap hari jika ingin program tersebut berjalan optimal.

“Biaya operasional untuk melayani masyarakat pesisir melalui program Puskesmas Terapung terlalu tinggi sehingga tidak dapat dilaksanakan setiap hari,” kata Tjetjep.

Ia mengatakan dalam sepekan dibutuhkan lebih dari 4 drum bahan bakar. Artinya, semakin tinggi intensitas kapal, semakin banyak pula bahan bakar yang dibutuhkan.

Persoalan kedua muncul ketika para dokter yang bertugas di kapal itu dinas yakni terkait rute yang telah ditetapkan. Kadang kala rute pelayaran Puskesmas Terapung tidak sesuai dengan kebutuhan warga yang tidak terduga. Contohnya, saat Puskesmas Terapung berlayar ke pulau A, ternyata ada warga di pulau B yang sakit.

Padahal warga tersebut membutuhkan bantuan medis secepatnya. Memutar haluan kapal hingga sampai ke pulau tempat tinggal pasien membutuhkan waktu yang lama. Kondisi ini yang tidak sesuai dengan keinginan pemerintah memberi pelayanan secara optimal dan efisien.

Persoalan ketiga muncul mana kala nakhoda kapal sakit atau berhalangan kerja. Dokter atau tim medis lainnya tidak mungkin menjadi nakhoda kapal.

“Akhirnya terhambat lagi pelayanan,” ucapnya.

Menurut dia, cara efektif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat yakni memperbanyak dokter keluarga. Dokter keluarga dan tim kesehatan bertugas menyosialisasikan bagaimana pola hidup sehat, mencegah dan mengobati penyakit.

Cara ini sejak beberapa tahun dilaksanakan, dan mendapat sambutan baik dari masyarakat, terutama yang tinggal di pulau-pulau.

Anggaran daerah yang digunakan untuk melaksanakan program dokter keluarga ini, jauh lebih kecil dibanding Puskesmas Terapung. Sebagai contoh, kata dia kalau Puskesmas Terapung membutuhkan anggaran Rp10 juta/hari, sementara untuk dokter keluarga dapat digunakan selama sebulan.

“Ini upaya jemput bola ke rumah warga sehingga lebih efektif, terutama di pulau-pulau,” ucapnya.

Sumber:keprprov.co.id

Berikan komentar anda