RSUD RAT Gelar In House Training Peningkatan Kapasitas dan Budaya Kerja

0
128

TANJUNGPINANG — RSUD Raja Ahmad Tabib bekerja sama dengan PT. Mitra Optima Talent melaksanakan kegiatan In House Training (IHT) dengan tema “Peningkatan Kapasitas dan Perubahan Budaya Kerja”, yang dilaksanakan selama 6 hari mulai tanggal 8 – 13 Juli 2019.

Rangkaian kegiatan tersebut terdiridari : In House Training Service Excellent, sebagai upaya membentuk Growth Mindset dalam optimalisasi team work dan peningkatan budaya kerja (Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Staff Manajemen), In house Training Peningkatan Kompetensi dan Kapasitas Kepemimpinan “Great Leadership” guna optimalisasi budaya kerja, In House Training Review Penyusunan Analisa Jabatan dan Analisa Beban Kerja (Pejabat Eselon, Ketua Komite dan Case Manajer), In House Training “Effective Communication Skill ”guna peningkatan mutu pelayanan ( Kepala Tim Ruangan, Staff Pelayanan dan Staff Manajemen).

Narasumber dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Veny Hidayat, S.Psi., M.Psi., Psikolog; Ir. HM Seno Hadi Sumitro, M.H., M.Ag; dan Muhammad Riza Febrianto, S.Psi., M.Psi, MA., Psikolog. Dengan metode mengkombinasikan teknik indoor, role play dan game menarik, dimana setiap peserta di dalam satu kelompok diwajibkan mengikuti rangkaian kegiatan ini selama 2 hari.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan dr.Elfiani Sandri, MPH.

Dalam sambutannya Wadir Yanmedik dan Keperawatan menyatakan “Peningkatan kapasitas SDM dan perubahan budaya kerja merupakan wujud peran dan tanggung jawab rumah sakit sebagai institusi publik yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, diamanatkan dalam Undang-Undang dan diatur oleh Permenkes, sehingga pegawai yang memiliki motivasi tinggi akan terlihat dalam gaya kerjanya, seperti disiplin waktu, bersikap positif terhadap pekerjaannya, menunjukkan perhatian yang tulus terhadap pasien, suka bekerjasama, suka memberi motivasi kepada orang lain dan selalu berpikir positif”.

Hal ini menjadi langkah strategis yang harus mendapat perhatian dari pihak manajemen dan stake-holder. Pendidikan dan pelatihan keahlian atau profesi sebagai kompetensi dasar harus juga ditunjang dengan kemampuan pengembangan soft-skills.
Secara sederhana budaya kerja diartikan sebagai cara pandang seseorang dalam memberi makna terhadap “kerja” yang merupakan komitmen organisasi, dalam upaya membangun sumber daya manusia, proses kerja, dan hasil kerja yang lebih baik.

Pencapaian peningkatan kualitas yang lebih baik tersebut, diharapkan bersumber dari setiap individu yang terkait dalam organisasi kerja itu sendiri. Budaya kerja berkaitan erat dengan perilaku dalam menyelesaikan pekerjaan. Perilaku ini merupakan cerminan dari sikap kerja yang didasari oleh nilai-nilai dan norma-norma yang dimiliki oleh setiap individu.
Budaya kerja memberikan manfaat bagi pegawai, antara lain: Memberi kesempatan untuk berperan, berprestasi, aktualisasi diri, mendapat pengakuan, penghargaan, kebanggaan kerja; Menumbuhkan rasa ikut memiliki dan bertanggungjawab; Memperluas wawasan; dan Meningkatkan kemampuan memimpin dan memecahkan masalah.

Selain itu budaya kerja bagi organisasi bertujuan untuk Meningkatkan kerja sama antar individu, antar kelompok dan antar unit kerja; Meningkatkan koordinasi sebagai akibat adanya kerjasama yang baik antar individu, antar kelompok dan antar unit kerja; Mengefektifkan integrasi, sinkronisasi, keselarasan dan dinamika yang terjadi dalam organisasi; Memperlancar komunikasi dan hubungan kerja; Menumbuhkan kepemimpinan yang partisipatif; Mengeliminasi hambatan-hambatan psikologis dan kultural; Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan sehingga dapat mendorong kreativitas pegawai.

Dibutuhkan waktu, komitmen, kedisiplinan dan upaya yang luar biasa, agar organisasi yang memiliki budaya kerja yang kuat akan dapat memperoleh hasil yang lebih baik. Hal tersebut diatas haruslah di dukung oleh Komunikasi yang efektif di lingkungan Rumah Sakit, dan dalam pelaksanan, setidaknya harus memenuhi kriteria “REACH” yaitu Respect, Emphaty, Audible, Clarity, Humble.

Budaya kerja memberikan pelayanan prima (service excellent) terbentuk dalam growth mindset yang dibangun oleh masing-masing individu perlu didukung dan mendapat dukungan dari seluruh komponen dalam sebuah organisasi khususnya pemimpin. Peran pemimpin menjadi salah satu faktor utama (katalisator) terlaksananya optimalisasi budaya kerja di organisasi. Kepemimpinan yang dilaksanakan oleh seorang pemimpin pada hakikatnya tidak dapat berjalan sendiri, membutuhkan kerjasama tim (team work) dan bekerja bersama tim (working as a team).

Menutup perbincangan pada hari itu, Kasubbag Kepegawaian RSUD RAT Dian Juni Ekasari, SST., SKM., M.KEB menyampaikan “Motivasi kerja pegawai pada waktu-waktu tertentu bisa turun naik. Oleh karena itu, agar seluruh pegawai dan RSUD Raja Ahmad Tabib tidak mengalami kerugian akibat penurunan motivasi, maka kita perlu mengatasi dan mencegahnya dengan tetap bersemangat dalam bekerja dan dengan komitmen dari seluruh komponen”.

Dimulai dari lini teratas sebagai top manajer hingga lini terbawah sebagai pelaksana di lapangan yang di dukung dengan perubahan pola pikir menuju Growth Mindset maka budaya kerja sesungguhnya adalah sesuatu yang pasti bisa terimplementasikan, “karena budaya kerja bukanlah sekedar kata-kata melainkan aksi nyata” ungkap beliau dengan semangat. (advertorial)

Sumber: Informasi & Pemasaran_RSUD RAT

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY