Saksi Mengaku Direktur Formalitas Terkait Kasus Tanky Meledak di Lokasi PT ASL

145

RASIO.CO, Batam – Saksi Billy merupakan Direktur PT. Dynamic Overseas mengaku serta berkelit hanya sebagai direktur formalitas sehingga tidak mengetahui sama sekali terkait meledaknya Tanky Kapal Tanker MT. Succes Energy XXXII terbakar di PT ASL Tanjung Uncang pada tahun 2016 lalu.

Parahnya, Billy sebagai direkturyang tertuang dalam akte notaris sebagai direktur, namun selalu berkelit tidak mengetahui adanya tangky meledak yang telah memakan korban terbakar David Crithoper Sitepu.

Namun, akhirnya mengaku mengetahui sedikit karena medapat pertanyaan JPU berdasarkan keterangan BAP kepolisian yang telah diberikan saat dipenyidik.

“Memang saya sebagai direktur diperusahaan tersebut tetapi lebih banyak dikendalikan kakak saya Yuli Wulandari sebgai komisaris dan benar kakak memberi tahu ada kecelakaan kerja yang korbannya David di lokasi ASL Batam,”kata Billy diruang sidang utamaPN Batam.Kamis(12/07).

Namun ketika JPU Rumondang kembali mempertagas terkait peristiwa aksiden kecelakaan
apakah saksi mengetahui? dan seperti apa tanggung jawab saksi sebagai direktur dt PT.DO?

Saksi Billy kembali berkelit bahkan selalu menjawab tidak tahu, sehingga majlis ketua
DR.Syahlan SH.MH sempat berang karena saksi bahkan telah mengundurkan diri ditahun 2011 dan sudah berada dijakarta.

“Masak saudara tidak tahu dimana terdakwa merupakan kakak saudara sendiri, padahal dalam keterangan di BAP Saudara tahu?,” ujar Syahlan dengan nada tedas terhadap saksi
dipersidangan.

“benar yang mulia saya mengetahui dari kakak sendiri tetapi yang lainnya saya tidak tahu dan tugas saya hanya mendandatangani pembayaran pajak setiap tahunnya,”ujarnya berkilah.

Sidang dilanjutkan mendegarkan keterangan dua saksi yang merupakan sebagai supervisor dan Foreman alias mandor yang mengetahui peristiwa meledaknya Tanky saat dikerjakan korban dilokasi PT ASL.

Sebelumnya, Saksi korban David Christohper, korban insiden Kapal Tanker MT. Succes Energy XXXII terbakar di PT ASL Tanjung Uncang pada tahun 2016 lalu, saat bersaksi tak bisa menahan kesedihannya, sehingga saat memberikan kesaksian di depan majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Batam, saksi meneteskan air matanya, Kamis (28/6/2018).

Korban terbakar yang sebelumnya bekerja di PT. Dynamic Overseas sebagai Welding pada tahun 2016 lalu itu, dengan rinci mengisahkan kepedihan yang dialaminya sejak ia mengalami peristiwa tragis tersebut.

“Waktu saya terbakar itu, satu pun tak ada orang yang mau menolong saya. Waktu saya keluar dari tanki, seluruh tubuhku terbakar. Untung saja saat itu ada supir mobil lori yang lewat dan mau membawa saya ke RS Embung Fatimah,” kata saksi sedih.

Disaksikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rumondang Manurung, SH, Hakim Dr.Syahlan, SH,
kedua terdakwa yang merupakan pasangan suami istri, Ronald Robert Alexzander Mangera
selaku Direktur Utama PT. Dynamic Overseas dan Dewi Wulandari sebagai Komisaris perusahaan serta disaksikan 2 penasehat hukum terdakwa, saksi menunjukan luka bakar yang ada di tubuhnya.

“Inilah bekasnya yang mulia, saat itu api membakar seluruh tubuh saya, tapi tak ada mau
menolong saya,” ucap saksi David Cristohper.

Ia mengaku, baru 2 hari bekerja di perusahaan tersebut, lalu di hari ketiganya ia mengalami peristiwa tragis itu.

Kejadian kebakaran tanki itu terjadi saat ia melakukan welding (penyambungan besi=red) di dalam tanki kapal yang beraroma bensin.

Katanya, ia melakukan welding saat itu atas perintah dari Jamsir Limbong oleh pihak PT.
Dynamic Overseas.

Kendati ia sudah menolak untuk mengerjakannya, namun Jamsir Limbong tetap memaksanya dengan alasan bahwa lokasi yang akan dikerjakannya itu sudah aman karena sebelumnya sudah dilakukan penyiraman dengan air.

“Sebelumnya aku sudah menolak untuk melakukan pengelasan. Aku menolak karena di dalam tanki itu baunya uap bensin. Namun Jamsir mengatakan tak apa-apa, karena dia atasan saya, makanya aku lakukan. Lalu tak lama setelah itu, tak tahu api dari mana, tanki pun terbakar dan apinya membakar tubuh saya. Dengan tubuh terbakar lalu saya keluar dari tanki, tapi saat iti ada orang yang mau menolong saya,” kenangnya.

Kata saksi lagi, ia melaporkan hal kejadian itu kepada polisi (Polda Kepri=red) lantaran pihak perusahaan tempat ia bekerja itu, selama menjalani perobatan, tidak pernah memperdulikannya.

Adapun pembayaran perobatannya selama di RSUD Embung Fatimah, kata dia itu semua
ditanggung oleh saudaranya yakni orang yang sebelumnya memasukannya kerja di perusahaan Subconnya PT. ASL itu.

Saksi juga mengatakan rasa kekesalannya terhadap seorang dokter, Dr. Shelly Madona Diaprie, SP. BP, Dokter Spesialis Beda Plastik di Awal Bros yang mana selalu menyuntiknya dan memaksakannya agar bisa segera bekerja kembali.

“Tiap hari saya disuntik oleh dokter Shelly dan selalu memaksa saya supaya bekerja kembali. Pikir saya saat itu, bagaimana saya bekerja sedangkan kondisiku belum sehat sepenuhnya, karena luka bakar yang saya alami begitu menyakitkan, sebab 45 persent kondisi tubuhku mengalami bekas luka bakar dan gatal jika terkena suhu panas,” ucap saksi.

Kepada hakim, terdakwa Dewi Wulandari mengatakan, kalau ia maupun suaminya, sama sekali tidak pernah memerintahkan siapapun untuk melakukan welding di kapal Tanker MT. Succes Energy itu.

“Saya kebaratan jika dikatakan telah memerintahkan untuk pengerjaan kapal itu, sebab kami tidak pernah menerima kontrak kerja untuk pengerajaan kapal tersebut,” kata terdakwa Dewi yang tidak ditahan itu.

Diduga seperti ingin bermanuver, sebelum sidang keterangan saksi korban ini berakhir, pihak terdakwa melalui penasehat hukumnya mengatakan, agar pengobatan saksi dapat dilanjutkan.

“Kalau bisa saudara saksi perobatannya dilanjutkan lagi,” anjur penasehat hukum terdakwa
seperti merasa kasihan.

Setelah mendengarkan keterangan saksi korban ini, sidang lalu diundur hakim hingga 1 minggu ke depan dengan agenda mendengarkan keterangan dari saksi yang lain.(red/dk/di).

APRI@www.rasio.co

Berikan komentar anda