Saksi Tergugat Sebut BNI Berhutang ke UBJ

0
1540

RASIO.CO, Batam – Sidang lanjutan kasus gugatan perdata PT. UBJ terhadap PT.Bumi Natura Indonesia masuk babak baru dimana saksi yang dihadirkan tergugat bertugas sebagai accounting mengakui bahwa BNI mempunyai hutang material pengerjaan sepuluh kapal senilai S$573 ribu dolar terhadap UBJ

Dan saksi mengakui bahwa tidak ada hubungan antara PT. UBJ sebagai supley material dengan kerjasama antara PT. BNI dan PT. ITE dalam pengerjaan sepuluh kapal, dimana UBJ tidak ada tercantum dalam perjanjian kerjasama kedua perusahaan.

Hal ini terungkap dipersidangan PN Batam, Kamis(10/09) dipimpin majelis hakim ketua Taufik Abdul Halim Nainggolan, S.H, Hakim anggota Dwi Nuramanu,S.H.Hum dan Yona Lamerossa Keteren,S.H,M.H.

Dimana Hakim Taufik mempertanyakan terhadap saksi sebagai tenaga pembukuan apakah mengetahui persoalan gugatan yang disidang saat ini? serta juga apakah saksi tahu bahwa penggugat dan tergugat bahwa perusahaan mempunya badan hukum sendiri-sendiri?.

Saksi menjawab bahwa mengetahui ada hutang atas perjanjian kerjasama pengerjaan kapal antara tahun 2013 s/d 2014 kerjasama antara PT. BNI dan PT. ITE dan dalam perjanjian tersebut tidak ada tercantum PT. UBJ sebagai suplay material kapal.

“Bentuk kerjasamanya saya tahu antara PT. BNI dan PT. ITE Oktober 2013 s/d Oktober 2016 dan saya ditugaskan berkantor di UBJ untuk mencatat pengeluaran serta pembayaran kerjasama kedua pihak selama dua bulan termasuk mencatat penerimaan pemasukan dari pemilik kapal,”

“Dan memang ada hutang PT.BNI terhadap PT UBJ sebagai suplyer material dan ada invoice masuk terhadap saya, nemun belum ada kesepakatan sehingga belum ada perintah untuk dibayarkan oleh atasan kepada saya,” Kata Saksi yang merupakan karyawan accounting PT.BNI dipersidangan PN Batam.

“Intinya benar yang berhutang PT.BNI ke PT UBJ tentang pembelian material kapal,”ulangnya lagi.

Saksi melanjutkan dan membenarkan terjadi hutang oleh PT.BNI tapi hutang timbul karena ada perjanjian antara PT. ITE makanya timbul biaya-biaya tersebut. namun karena saksi berbelit majelis hakim Yona memastikan kembali terhadap saksi terhadap pertanyaan ketua majelis.

Pasalnya, jawaban saksi membuat bingung, padahal pertanyaan simple dan hakim meminta saksi memahami dahulu pertanyaan majelis ketua tentang perjanjian kerjasama antara Perusahaan BNI dan ITE dan UBJ hanya sebagai penyedia dan tidak ada tercantum dalam perjanjian kerjasama kedua perusahaan yang dipertanyakan ketua majelis.

“Memang ada yang mulia UBJ mengirim material ke BNI dan memang ada juga BNI sewa airbag atau crane dan memang ada juga penyewaan namun barang tersebut tidak tahu miliknya,”

“Dan hutang sebagian sudah dibayar dan yang belum dibayar 573 ribu singapura dolar,” jelasnya.

Hakim Yona kembali menegaskan terhadap saksi apa hubungan antara perjanjian kedua perusahaan dengan UBJ sebagai Suplyer material yang hutangnya tak dibayar sedangkan saksi mengetahui ada pemesanan barang, dan kembali hakim Dwi menegaskan yang hutang sebenarnya siapa? BNI atau UBJ? saksi menjawab BNI.

Hakim Yona mengaskan bahwa kerjasama y kerjasama, pemesanan barang y pemesanan barang dan biar kami nanti menentukan hukumnya karena perjanjian kerjasama tidak ada hubungan dengan UBJ sebagai suplier.

Sementara itu, Kuasa Hukum penggugat Lindasari Novianti,S.H.,M.H. mempertanyakan terhadap saksi apakah mengetahui perjanjian kerjasama antara PT.BNI dan PT.ITE serta juga apakah pernah pak sasinan melakukan penagihan uang sewa atau sewa peralatan, namun saksi menjawan tidak ada penagihan sewa alat.

Linda juga mempertanyakan, apakah saksi mengetahui dalam perjanjian kerjasama pembangunan 10 unit kapal ada penyetoran modal 50-50 kedua pihak, namun saksi menjawab tidak ada. selain itu terkait pengunaan lima rekening yang ada, rekening mana yang digunakan dalam transaksi pembayaran atas kesepakatan kedua belah pihak? karena dari lima rekening juga ada rekening pribadi?.

Selain itu, Linda juga mempertanyakan terhadap saksi, apakah mengetahui setiap transaksi pembayaran diketahui tidak oleh kedua belah pihak dan setiap melakukan pembayaran selalu ada rapat?.

apakah setiap pemabayaran selalu ada pak sasinan karena sesuai perjanjian harus persetujuan kedua belah pihak, mendapat pertanyaan tersebut saksi sulit menjawab dengan baik dan selalu beralasan lupa padahal saksi merupakan acounting yang mana sebelum pembayaran mencroscek terlebih dahulu.

Tadi saudara mengatakan bahwa setiap melakukan pembayaran maupun pemasukan barang sepengetahuan atasan dan selalu melakukan rapat dan kenapa hutang belum dibayar , saksi menjawan belum ada persetujuan atasan

Kuasa Hukum Linda mempertanyakan, apakah kerugian yang saudara catat dan mengatakan terjadi kerugian terhadap pengerjaan kapal secara menyeluruh atau satu kapal? karena dalam laporan keuangan saudari tidak disebutkan secara rinci dan kalau memang kerugian terjadi menyeluruh pengerjaan kapal? kenapa pada pengerjaan kapal pertama, kedua, ketiga, keempat atau selanjutnya tidak dihentikan, kalau memang merugi?

Namun saksi lagi berkilah tidak tahu , padahal saksi merupakan seorang akunting di perushaan PT.BNI yang melakukan order material bahkan pernah melakukan pembayaran terhadap PT.UBJ yang tidak ada hubungan dengan perjanjian kersama pengerjaan 10 kapal antara PT.BNI dan PT. Internasional Tool Equitment.

Sedangkan Kuasa hukum Chicha Zaitun Elissabeth, S.Kom., S.H.,M.H.,Chica menyebutkan bahwa dalam laporan keuangan terjadi dalam laporannya 1 kapal, apakah laporan saksi tersebut sepuluh kapal atau satu kapal?, Namun saksi lagi berkilah sepuluh kapal dan bukan satu kapal dalam rincian laporannya.

Sedangkan keterangan saksi lainnya menjelaskan bahwa PT.BNI direkturnya Joni sedangkan PT.ITE direkturnya Sasinan dan membenarkan kerjasama kedua belah pihak tetapi juga mengakui ada hutang material di Suplier PT UBJ yang belum dibayar dan sidang diagendakan tanggal 24 September 2020 putusan.

Sebelumnya, Sidang perdana Kasus gugatan perdata PT. Usaha Baru Jaya terhadap sebagai tergugat PT.Bumi Natura Indonesia bergulir di Pengadilan Negeri(PN Batam.Kamis(18/06).

Dalam Posita Penggugat PT. Usaha Baru Jaya diwakili Sasinan, Bahwa Tergugat mengambil barang-barang material plate ditoko Penggugat pada 18 November 2013 sampai dengan 6 Mei 2014 lalu sebesar SGD 2.245.851.08.

Selain itu, Juga mengambil barang meterial pipa dari tanggal 11 February 2014 sampai dengan tanggal 4 September 2014 sebesar SGD 133.445.11 tetapi sudah ada angsuran tergugat sebesar SGD 1.806.080.85 selama kurun waktu Oktober 2013 sampai dengan September 2014.

Namun, Hingga kini tunggakan tergugat belum bayar, dimana akhirnya pihak penggugat melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri Batam.

Sidang perdana dengan Majelis Hakim Ketua Taufik Abdul Halim Nainggolan, S.H, Hakim anggota Dwi Nuramanu,S.H.Hum dan Yona Lamerossa Keteren,S.H,M.H.

Sidang yang digelar lebih kurang 20 menit ini, Mejlis Hakim Ketua melakukan pemeriksaan Surat Kuasa masing-masing Penggugat serta Tergugat dan berlanjut penunjukan Hakim Mediasi. Dimana kedua belah pihak sepakat diserahkan terhadap majelis untuk menunjuk Hakim untuk melakukan mediasi

“Sepakat y bahwa hakim mediasi Christo EN Sitorus dan mudahan-mudahan di mediasi terjadi kesepakatan,” Kata Taufik Abdul Halim Nainggolan, S.H sambil ketokkan palu.

Sementara itu, Kuasa Penggugat Lindasari Novianti,S.H.,M.H., Chicha Zaitun Elissabeth, S.Kom., S.H.,M.H., Muhammad Ilyas, S.H., Indra Sakti, S.H., M.H., dan Daniel Adi Widyantmoko, S.H mengatakan sepakat.

“Sepakat yang mulia,” Ujar dua Advokat cantik, Lindasari Novianti, S.H.,M.H., didampingi Chicha Zaitun Elissabeth.

APRI@www.rasio.co //

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY