Siswo Ungkap Calo Pembuatan Paspor Gunakan KTP Palsu di Imigrasi

98

RASIO.CO, Batam – Terdakwa Siswo Adi bin Sukayat sebagai saksi dalam kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang(TPPO) dengan terdakwa Juwarnis Alias Anika menggungkap cara pembuatan paspor mengunakan KTP Palsu di Imigrasi Batam.

Kedua berkas terdakwa terpisah, dimana berkas berkara Juwarni telah terlebih dahulu disidangkan dan sudah masuk tahap pemeriksaan saksi pelapor dan Saksi pembuat KTP Palsu Siswo Adi(Berkas terpisah) dengan majelis hakim ketua Iman didampingi dua hakim anggota. Rabu(01/08).

Terungkap dipersidangan. bahwa korban Margaretha Matilde Patinuri dan Maria Alecia asal NTT akan direkrut terdakwa Juwarni untuk dipekerjakan di Singapura sebagai pembantu rumah tangga tetapi belum mempunyai paspor.

“Awalnya ibu Juwarni meminta saya membuatkan paspor korban tetapi saya tolak tidak ada ktp tetapi hanya ada rekam berupa surat rekam E-KTP,” Kata Saksi Siswo Adi sekaligus sebagai terdakwa di PN Batam.

Lanjut, terdakwa Siswo Adi, dirinya terus dimintai tolong terdakwa Juwarni agar membantu membuatkan paspor dan akhirnya saya setujui, namun terlebih dahulu berkonsultasi terhadap calo bernama Zul(DPO) yang mangkal di Imigrasi Batamcentre.

“Bisa tetapi indentitas korban harus dirobah dan harus pakai jilbab saat difoto,” kata Zul(dpo) terhadap saya yang mulia.

Terdakwa mengatakan, selanjutnya disampaikan terhadap terdakwa Juwarni dan disanggupi pembayaran Rp3,5 juta dimana Rp500 ribu untuk dirinya dan sisanya untuk biaya pengurusan di imigrasi.

“kalau pemalsuan identitas dan pembuatan KTP Palsu, dirinya yang membuat sedangkan urusan pembuatan paspor diimigrasi Batam dilakukan Zul,”pungkasnya.

saat majlis hakim mempertanyakan, bagaimana proses pembuatan paspor serta siapa saja oknum yang terlibat, terdakwa Siswo Adi lebih memilih bungkam dan mengatakan tidak tahu.

Kasus ini bermula, Januari 2018 terdakwa memberitahukan kepada Sdr. Carolina (DPO) bahwa terdakwa Juwarni alias Anika alias Mami dapat membantu orang yang ingin bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga di Singapura.

Carolina menghubungi terdakwa dan mengatakan kepada terdakwa ada 2 orang tetangganya yang bernama Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia yang ingin bekerja di Singapura. Setelah terdakwa mendapat informasi dari agency Singapura lalu terdakwa menghubungi Sdri. Carolina untuk mempersiapkan dokumen seperti Ijazah, KK, KTP dan Surat Izin dari Keluarga.

Selanjutnya pada tanggal 15 Januari 2018 Sdr. Carolina memberitahukan kepada Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia bahwa mereka akan diberangkatkan ke Batam pada tanggal 18 Januari 2018.

Dan terdakwa telah mengirimkan kode booking tiket pesawat Lion Air tujuan Maumere ke Jakarta dan Jakarta melalui Handphone Sdri. Carolina kemudian Sdri. Carolina mengirimkannya ke Handphone Sdri. Maria Alexia untuk keberangkatkan Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia.

Bahwa pada tanggal 18 Januari 2018 sekira pukul 07.00 Wib sekira pukul 07.00 Wib Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia berangkat ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta lalu Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia dijemput oleh Sdri. Carolina untuk menginap dirumahnya.

Keesokan harinya Sdri. Carolina mengantar Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia ke Bandara dengan tujuan Kota Batam, dalam perjalanan menuju Bandara Sdri. Carolina menjelaskan kepada Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia bahwa sesampainya di Batam terdakwa menyuruh mereka untuk naik Taxi menuju Halte BCS Mall karena disana akan ada orang yang menunggu.

Sesampainya Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia di Batam, diatas Taxi lalu Helen menghubungi Sdri. Maria Alexia memberitahukan bahwa ia telah menunggu di Halte BCS Mall.
Setelah Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia bertemu dengan Helen di Halte BCS Mall kemudian Helen mengatakan bahwa ia disuruh oleh terdakwa untuk menjemput dan membawa mereka ke tempat penampungan sementara yang beralamat Perumahan Taman Anugrah Ideal Batam Center.

Setelah seminggu berada dipenampungan lalu datang terdakwa memperkenalkan dirinya untuk dipanggil Mami menemui Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia, menjelaskan bahwa terdakwa yang akan mengurus dokumen dan pekerjaan mereka di Singapura, dimana mereka akan bekerja disana selama 2 tahun dan bisa diperpanjang dengan gaji sebesar SGD 580 dan akan dipotong oleh terdakwa sebesar SGD 500 selama 8 bulan.

Selama Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia berada dipenampungan terdakwa juga mengantarkan bahan makanan untuk dimasak dan keperluan harian lainnya selama dipenampungan.

Kemudian pada awal bulan Februari 2018 terdakwa datang ke penampungan untuk menemui Sdri. Margaretha Matilde untuk keperluan pembuatan pasport karena tanggal 14 Februari 2018 Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia akan diberangkatkan ke Singapura.

Pada saat itu terdakwa mengatakan kepadanya untuk memakai jilbab ketika difoto karena Sdri. Margaretha Matilde bukanlah seorang muslim dan beragama Kristen Khatolik Sdri. Margaretha Matilde pun menolaknya lalu terdakwa mengatakan,

” kamu mau bekerja gak, ikuti saja apa yang saya suruh”, kemudian terdakwa menjelaskan kepada Sdri. Margaretha Matilde bahwa untuk bisa masuk dan bekerja di Singapura Sdri. Margaretha Matilde harus memakai jilbab karena orang NTT tidak boleh masuk Singapura.

Selanjutnya terdakwa memberitahukan identitas baru Sdri. Margaretha Matilde Patinuri dengan nama Retha Patinuri, tempat tinggal dan lahir di Lombok tanggal 27 Agustus 1984, Agama Islam, Tempat tinggal Taman Raya Tahap III Blok G No. 4 Batam.

Sedangkan identitas Sdri. Margaretha Matilde Patinuri yang sebenarnya berdasarkan KTP asli No. 5307056702840002 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Prov Nusa Tenggara Timur adalah Nama Margaretha Matilde Patinuri, lahir di Maumere, tanggal 27 Februari 1984, Agama Kristen Khatolik, Alamat/ tempat tinggal Jalan Gajah Mada RT. 002 RW.011 Kelurahan Madawat Kecamatan Alok Maumere. Kemudian terdakwa meminta Sdri. Margaretha Matilde untuk mencatatnya dibuku dan menghafalnya.

Seminggu setelah itu terdakwa menghubungi Sdri. Margaretha Matilde untuk datang kerumahnya dan menyuruhnya untuk memakai jilbab. Sesampainya Sdri. Margaretha Matilde dirumah terdakwa lalu terdakwa mengatakan akan pergi ke Kantor Imigrasi untuk foto Passport dengan diantar Sdr. Aziz (DPO).

Sesampainya di Kantor Imigrasi lalu Sdr. Aziz mengarahkan Sdri. Margaretha Matilde untuk menunggu di ruang foto pasport. Setelah satu jam menunggu lalu Sdri. Margaretha Matilde dihubungi oleh seorang perempuan yang tidak saksi kenal menyuruh ke loket 4 dan Sdri. Margaretha Matilde langsung menuju loket 4.

Kemudian Sdri. Margaretha Matilde menyebutkan identitas sesuai dengan arahan terdakwa dengan nama Retha Patinuri. Setelah petugas mengambil foto dan sidik jari lalu Sdri. Margaretha Matilde langsung pulang ke penampungan.

Tak lama kemudian pasport milik Sdri. Margaretha Matilde dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi Kota Batam yang dikirimkan oleh terdakwa melalui Hp Lastri yang kemudian diteruskan ke Hp Helen dan Helen mengirimkannya lagi ke Hp Sdri. Maria Alexia tetapi sampai dengan tanggal 20 Februari 2018 Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia tidak juga diberangkatkan oleh terdakwa.

Malahan terdakwa menyuruh Sdri. Margaretha Matilde dan Sdri. Maria Alexia untuk sementara tinggal dirumah saudara Maria Alexia di Ruli Kampung Air Batam sambil menunggu kabar dari terdakwa.

APRI@www.rasio.co

Berikan komentar anda