Terdakwa Supendi Tidak Hadir, Hakim Tunda Persidangan

0
152

RASIO.CO, Batam – Beberapa sidang terpaksa di tunda Majelis hakim PN Batam karena JPU belum siap dalam pembacaan tuntutan.

Salah satunya sidang perkara dugaan kosmetik ilegal asal Thailand dengan terdakwa Supendi, pasalnya terdakwa tidak hadir. Ironisnya terdakwa merupakan tahaanan rumah.

Tidak itu saja, majelis hakim ketua Taufik didampingi dua hakim anggota sempat menunda sidang beberapa menit dimana akhirnya kembali membuka sidang, namun akhirnya menutup sidang untuk ditunda akibat JPU belum siap tuntutan.

“Sidang ditunda, diminta JPU segera siapkan tuntutan terdakwa,” kata Hakim Taufik Abdul Halim Nainggolan, S.H dimana sidang digelar secara virtual . Senin(15/02).

Selain itu, penundaan sidang tidak terjadi hanya kasus suspendi, beberapa kasus narkoba juga terjadi bahkan uniknya sidang dibuka, namun JPU penganti tidak ada berkas terdakwa sehingga kembali ditunda.

Sementara itu, Kasus terdakwa Supendi diketahui, sebelumnya, Terdakwa Supandi mengakui telah memasarkan produk kosmetik dan obat tradisional ilegal lebih setahun di Batam.

Hal ini disampaikan terdakwa Supandi dalam agenda sidang di PN Batam. Senin(24/01) dalam agenda keterangan, saksi, ahli dan pemeriksaan tersakwa.
Sidang yang digelar diruang sidang Wirjono Prodjodikoro, dipimpin majelis hakim ketua Taufik Abdul Halim Nainggolan didampingi dua hakim anggota.

Ahli Annysha Harfan dari BPOM Kepri menjelaskan bahwa pernuatam terdakwa
berdasarkan surat pemeriksaan tentang izin edar nomor HK.04.03.955.06.20.3391 tanggal 26 Juni 2020.

Dan penandaan pada label dan kemasan produk yang diperlihatkan kepada ahli merupakan produk yang termasuk sediaan farmasi yaitu Kosmetik dan Obat Tradisional.

Sediaan farmasi (Kosmetik dan Obat Tradisional) tersebut tidak memiliki ijin edar dari Badan POM RI.

“Sediaan farmasi berupa Kosmetik dan Obat Tradisional yang tidak memiliki izin edar dari Badan POM RI tidak dapat diedarkan/diperjualbelikan di wilayah Indonesia, sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yaitu Pasal 106 ayat (1) Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,” Jelas Annysha secara sidang virtual.

Menanggapi keterangan ahli tersebut, terdakwa Supandi membenarkan bahwa produk asal thailand tersebut tidak memiliki izin edar yang dipesan terdakwa melalui online.

“Benar yang mulia tidak ada izin edar dan dupesan melalui online,” kata Supandi yang mendapat tahanan rumah.

Usai mendegarkan keterangan sakai, ahli dan pemeriksaan terdakwa , majelis hakim ketua menunda sidamg pekan depan dengan agenda mendengarkan tuntutan JPU.

Diketahui, Terdakwa Supandi sekira bulan Juni 2020, didatangi petugas BPOM Kepri
Gudang Felixia MDC Online Shop alamat Perumahan Graha Tiban Mansion Blok D No12A -12B, Kel. Patam Lestari, Kec. Sekupang, Kota Batam.

Petugas Balai POM di Batam melakukan pemeriksaan didampingi dengan Terdakwa Supandi selaku pemilik dan penanggungjawab Rumah/ Gudang Felixia MDC Online Shop alamat Perumahan Graha Tiban Mansion Blok D No12A -12B, Tiban.

Selanjutnya petugas Balai POM di Batam melakukan pemeriksaan di lantai 1 dan lantai 2 termasuk Gudang tempat penyimpanan kosmetik dan baju yang berada di bagian belakang rumah lantai 1 (satu).

Ketika pemeriksaan tersebut Petugas/ PPNS Balai POM di Batam menemukan produk Sediaan Farmasi yaitu Kosmetik dan Obat Tradisonal yang tidak memiliki izin edar, nota penjualan MDC Online Shop, Faktur pembelian kosmetik dari Tofu Skincare Company Limited Thailand.
Resi Pengiriman Felixia MDC Online Shop, Catatan penjualan Felixia MDC Online Shop, Catatan pengiriman Felixia MDC Online Shop, dan buku catatan Purchase Order.

Petugas BPOM Batam juga menemukan Kosmetik dan Obat Tradisional yang tidak memiliki izin edar dari Badan POM RI dan dokumen lainnya terkait dengan kegiatan Felixia MDC Online Shop.

Terhadap temuan yaitu Kosmetik dan Obat Tradisional yang tidak memiliki izin edar dan barang bukti terkait lainnya, PPNS Balai POM di Batam melakukan penyitaan barang bukti tersebut dengan membuat Berita Acara Penyitaan dan Surat Tanda Penerimaan Barang Bukti.
Kosmetik yang disita berasal atau dibeli dari perusahaan Tofu skincare company limied di Thailand melalui aplikasi LINE.

Dari perusahaan Tofu skincare company limied akan memberikan Resi Penjualan (PO) terkait barang dan harga melalui aplikasi LINE. Setelah ada harga semua barang yang dibeli, lalu dibayarkan ke pihak Tofu skincare company limied.
Pengiriman barang dari Thailand menggunakan Ekspedisi. Ada Resi Penjualan (PO) berupa foto di kirim melalui aplikasi LINE sesuai print Faktur pembelian dari Tofu skincare company limied.

Produk-produk kosmetik tidak memiliki ijin edar tersebut dijual ke seluruh Indonesia sesuai yang memesan dari toko online Felixia MDC di Facebook.
Untuk pengiriman barang dikirim ekspedisi JNE dan POS Indonesia. Produk-produk tersebut dikirim dengan nota penjualan yang ditempel pada paketnya.

Bahwa keuntungan kotor Terdakwa dari penjualan kosmetik tidak memiliki izin edar yang dijual nama akun Felixia MDC di Facebook sekitar Rp 20.000 sampai dengan Rp 30.000.

Adapun nilai  dari barang-barang yang disita oleh Petugas/ PPNS Balai POM di Batam sekitar Rp 36.000.000 (Tiga puluh enam juta rupiah).

Bahwa Terdakwa mengetahui untuk sebagian produk kosmetik yang Terdakwa jual legal di jual dinegara asalnya.
Terdakwa menjual karena ada permintaan dari konsumen karena istrinya sambil memakai atau menggunakan produk tersebut saat live facebook, dan kosumen yang menonton live facebook menanyakan dan menitip untuk dibelikan produk tersebut.

sehingga Terdakwa menjual produk kosmetik yang telah disita oleh Petugas/ PPNS Balai POM di Batam tersebut.
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 197 Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

Adi@www.rasio.co //

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY