Terdakwa Tjipta Fudjiarta Menyesal Beli Saham BCC Hotel Batam

195

RASIO.CO, Batam – Pengadilan Negeri (PN) kembali menyidangkan dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta, agenda pemeriksaan terdakwa . Selasa(28/08).

Ironisnya, diakhir pemeriksaan terdakwa, Terdakwa Tjipta Fujiarta berkeluh serta menyampaikan terhadap Majelis Hakim, Tumpal Sagala, didampingi dua hakim anggota Yona Lamerossa Ketaren dan M Candra, menyesal membeli saham BCC Hotel..

“Saya menyesal membeli saham BCC Hotel yang mulia,” Kata terdakwa Tjipta Fujiarta di ruang sidang utama PN Batam.

Selain itu, Dalam pemeriksaan terdakwa Tjipta Fujiarta, 5 JPU dimana tiga diantaranya merupakan langsung dari Kajagung mencerca terdakwa dengan pertanyaan seputar muasal terdakwa membeli saham hingga modus sampai menguasai aset Hotel dan apartemen BCC Hotel.

Bagaimana awalnya saudara terdakwa Tjipta Fujiarta mengenal korban Conti Chandra sehingga terjadi pinjaman lebih kurang Rp27,5 milyar? dan saudara berpendapat uang pinjaman itu merupakan beli saham?

Terdakwa Tjipta Menjelaskan,bahwa dirinya tidak ada mengundang Conti Chandra ke kekediamannya di Medan, namun datang sendiri bersama istrinya serta mengeluh sedang gagal mencari investor untuk melanjutkan pembagunan hotel tersebut.

“Dan Conti menawarkan membeli saham rekannya yang akan dijual, bukan pinjam uang, dimana nilai saham ditawarkan sekitar Rp137 jutaan perlembar dan saham ada sekitar seribuan lembar,” ujarnya.

Baik, bagaimana diakte 89 harga saham disepakati harga perlembar Rp137 juta tetapi ketika diakte perubahan kok bisa harga saham perlembar sebanyak seribu lembar dihargai Rp1 juta? dan apakah saudara terdakwa Tjipta Fujiarta yakin setelah membeli saham lalu bisa menguasai aset berupa hotel dan apartemen?

“Sedari awal sudah saya katakan bahwa tidak ada pinjam meminjamkan uang tetapi membeli saham dan itu terlihat ada dia akta 2 jelas disana dan silahkan JPU baca kembali,” kata Tjipta lagi.

Oke lanjut, kata JPU, berdasarkan keterangan saksi 4 pemegang saham yang sudah disumpah mengatakan, ketika terjadi pembelian saham dan pembuatan akta di notaris Agli Cenggana saudara terdakwa tidak hadir?

“Saya hadir bahkan langsung dari Medan,”kata terdakwa.

Selanjutnya, Apakah dengan membeli saham mayoritas PT BMS saudara terdakwa bisa langsung menguasai hotel dan apartemen dan tolong kembali jelaskan bagaimana bisa awalnya harga saham total berjumlah Rp187 milyar dan diakta perubahan jadi Rp1 juta perlembar? lalu aset dimiliki.

“Menurut saya sebagai seorang bisnis bisa dan saya tidaklah bodoh sekali dan sudah saya perhitungkan meski saat ini akta jual beli tersebut berada di tangan Conti. dan saya pun bisa minta salinan akta tersebut terhadap notaris Agli Cenggana?,” kata terdakwa membuat JPU terperangah.

“mohon dicatat yang mulia apa yang di ucapkan terdakwa karena berdasarkan keterangan salah seorang saksi ahli bahwa membeli saham belum bisa memilik aset sedangkan terdakwa mengatakan bisa,” ujar JPU.

Mendegar ucapan terdakwa terkait bisa memerintahkan notaris untuk menerbitkan akte walaupun akta masih dipegang Conti Chandra karena masih belum dibayar terdakwa, majelis hakim ketua Tumpal Sagala sedikit berang dan mengatakan kenapa hal itu tidak saudara lakukan? kalau memang bisa saudara terdakwa minta terhadap pejabat notaris tersebut?.

“Jika memang saudara terdakwa bisa melakukan untuk meminta pejabat
notaris menerbitkan, kenapa tidak dilakukan, jadi saudara terdakwa jangan asal bicara,” kata Tumpal.

Dipersidangan, terpantau ada terjadi ketengangan bahkan membuat JPU serta majelis hakim seperti digurui oleh terdakwa dalam perkara ini, bahkan terlihat terdakwa terindikasi sedikit emosi menjawab pertanyaan JPU dan Hakim. sehingga terdakwa terindikasi lupa kapasitasnya sebagai apa?.

JPU melanjutkan,
Saudara hanya membayar lebih kurang Rp87 milyar sedangkan nilai aset hotel dan apartmen ratusan milyar, kok bisa demikian?.

Setahu saya, kata Tjipta, ketika pemelian saham, pihak pemegang saham mempunya hutang di bank Panin , tentu dalam perhitungan bisnis dihitung termasuk hutang-hutang lainnya.

Selain itu, kata terdakwa, Conti sendiri masih memiliki saham 12,5 persen di PT BMS. Namun, yang bersangkutan tidak menerima keuntungan dari BCC Hotel dan Apartemen. Sebab, perusahaan masih merugi.

“Macam mana mau bagi keuntungan kalau masih merugi dan harus membayar hutang ke bank Panin dan sebagai kesepakatan tertulis dengan pihak bank. untuk operasional hotel masih harus pakai dana segar untuk menutupi hutang dan operasional,” kata Tjipta.

Diterangkan terdakwa, dirinya selaku komisaris di PT BMS mempunyai data terkait laporan pengeluaran dan pemasukan keuangan di BCC Hotel.

“Semua ada bukti laporannya yang mulia. Silahkan di cek, maka dari itu kami belum bisa membagikan keuntungan dari hotel. Sebab, hutang kami di bank mencapai Rp70 miliar,” terangnya.

JPU kembali menanyakan kepada terdakwa terkait apakah Conti Candra pernah menawarkan kepada terdakwa penjualan aset Rp182 miliar untuk membeli BCC Hotel dan Apartemen.

“Itu hanya dongeng, tidak pernah dia menawarkan kepada saya untuk membeli itu,” ujarnya.

Conti Candra tidak mengakui dirinya sebagai Komisaris di PT BMS. Hal itu berdasarkan surat yang dikirimkan Conti Candra melalui pengacaranya.

“Karena dia masih ada saham di PT BMS sebesar 12,5 persen. Maka kami selalu mengundangnya untuk mengikuti RUPS. namun Conti melayangkan surat lewat pengacaranya tidak mengakui saya sebagai komisaris,” ucapnya.

Tetapi pihaknya tetap menggelar RUPS tahunan. Sebab, saat ini pemegang saham hanya dirinya dan juga pelapor dalam hal ini Conti Candra.

“lo itukan hutang di bank Panin sudah dibayar kok bisa diperhitungkan,”Kata JPU.

Sidang lajutan terdakwa Tjipta diagendakan kembali saksi meringankan, keterangan saksi ahli dari terdakwa, tuntutan JPU, tanggapan dan jawaban serta berakhir putusan majelis hakim yang diperkirakan tanggal 19 atau 20 September 2018.

APRI@www.rasio.co

Berikan komentar anda