Terungkap Dipersidangan Winston Merupakan Ditektur Tampa Saham di BCC Hotel

126

RASIO.CO, Batam – Mantan Direktur Utama (Dirut) PT.Bagun Megah Semesta (BMS) pengelola BCC Hotel, Toyo Wingston Warga Negara Asing (WNA) asal Singapore yang diangkat sepihak oleh terdakwa Tjipta Fudjiarta, bersaksi di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Jumat (3/8).

Sidang yang diketuai Hakim Tumpal Sagala, didampingi hakim anggota Taufik dan Yona
Lamerosa Ketaren dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Filpan Fajar dan Samsul Sitinjak ini, saksi mengatakan, ia diangkat terdakwa tampa ada persetujuan dari Conti Candra.

“Setelah setahun saya menjabat Generel Menager (GM), saya diangkat Komisaris pak Tjipta menjadi Dirut PT. BMS. Ada suratnya, tapi tidak ditanda tangani direktur Conti Candra. Namun tak lama dari itu, saya lalu mengundurkan diri karena saya tak bisa fokus lagi mengelola hotel itu lantaran media selalu memberitakan persoalan yang ada di hotel BCC yang berakibat omset hotel menurun,” kata saksi menjawab pertanyaan hakim.

Ketika ditanya hakim berapa saham milik saksi di PT. BMS sehingga bisa diangkat jadi Dirut di perusahaan tersebut, saksi menjawab, tidak ada.

“Saya tidak punya saham yang mulia. Saya diangkat oleh pak Tjipta karena mungkin selama setahun jadi GM di hotel itu, dinilainya berprestasi baik,” jawab saksi.

Saksi juga mengatakan, bahwa di setiap ada rencana rapat-rapat untuk penerbitan akta-akta yang akan mereka lakukan di Notaris, Conti Candra tidak pernah hadir

“Setiap ada rencana rapat, Conti Candra selalu diundang, tetapi beliau tidak pernah hadir.
Bahkan melalui istrinya, Conti Candra juga pernah memberikan surat pengunduran diri dari
susunan direksi PT.BMS,” kata saksi lagi.

Mengenai soal pengunduran diri saksi dari Dirut PT.BMS, selain katanya dampak dari
pemberitaan media, juga karena ia telah mengetahui yang terjadi di perusahaan tersebut.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, hakim Tumpal Sagala menscore sidang selama 2 jam, dan kembali akan melanjutkan sidang untuk mendengar saksi fakta dari pihak Bank ekonomi, karena sebelumnya ada pihak PT.BMS yang melakukan peminjaman sebesar Rp 70 miliar ke Bank Ekonomi.

Parahnya lagi, saksi yang sudah menjabat Dirut waktu itu, tidak mengetahui, siapa yang
mengajukan pinjaman itu.

Dalam perkara ini, oleh JPU terdakwa Tjipat Fudjiarta dijerat dengan pasal berlapis di antaranya pasal 378 KUHP tentang penipuan, pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan pasal 266 tentang pemalsuan surat-surat terhadap akta otentik, dengan ancaman pidana maksimal 7 tahun penjara.(red/dk/di).

Berikan komentar anda