Upaya Membangkitkan Budidaya Kelautan di Tengah Pandemi

0
261

RASIO.CO, Tanjungpinang – Sekretaris Daerah Provinsi Kepri H TS Arif Fadilah menegaskan bahwa wilayah Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Kamboja, Malaysia dan Vietnam. Dan berkaitan dengan situasi Covid-19 ini, menurutnya dampaknya cukup luar biasa.

Akibatnya meskipun wisata Kepri berada diperingkat ke-3 di Indonesia, namun dirasankan sangat menurun sekali. Bahkan sektor industri juga mengalami penurunan karena bahan baku dari luar negeri tidak bisa masuk.

Kondisi ini disampaikan Arif saat memaparkan secara virtual webinar ‘Solisi Pembiayaan dan Pemasaran Produk Perikanan diTengah Pandemi’ dengan tema ‘Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pengembangan Koperasi dan UMKM Sektor Perikanan’ di ruang rapat lantai 3 Kantor Gubernur Dompak, Tanjungpinang, Selasa (6/10).

Di seluruh Provinsi Kepri papar Arif tercatat sebanyak 2.132 koperasi, koperasi nelayan berjumlah 262 dan UMKM berjumlah 160.290.

“Para pelaku usaha dibidang Kelautan dan Perikanan sangat memerlukan kemudahan akses pembiayaan. Selain itu masalah lainnya adalah tingginya biaya logistik yang berdampak kepada tingginya harga jual dari pulau terluar, rendahnya pemanfaatan teknologi bagi koperasi dan UMKM dalam pengelolaan bahan baku dan rendahnya kualitas kemasan produk koperasi dan UMKM. Apa yang menjadi kendala para pengusaha dibidang kelautan dan perikanan itulah yang ingin terus kita dongkrak agar maju,” ungkapnya.

Dijelaskan Arif juga sesuai laporan bupati dan walikota, bahwasanya para nelayan tangkap tidak punya akses pemasaran, ditambah lagi daya beli masyarakat sekarang kurang.

‚ÄúPasar lokal, restoran dan hotel di Kepri yang dulunya sangat eksis didunia Pariwisata sekarang tampak kosong karena semuanya terbatas,” katanya.

Dampak dari Covid-19 bagi usaha Perikanan dan budidaya ikan laut di Kepulauan Riau adalah menurunnya harga jual secara drastis.

Adapun hasil budidaya ikan, seperti kerapu biasanya dijual ke Malaysia, Singapura dan Hongkong. Untuk ikan hidup sebelum Covid-19 ada yang diekspor nanun namun semenjak coroba tidak ada lagi. Melainkan hanya di jual di pasar lokal dengan kondisi daya seralbyang tidak maksimal.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY