Waspadai Efek Samping Rokok Elektrik

0
120

RASIO.CO, jakarta – Banyak yang menganggap bahwa rokok elektrik lebih aman dibandingkan dengan rokok biasa.

Nyatanya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meski tidak menghasilkan asap berbahaya seperti rokok biasa, bukan berarti rokok elektrik tidak memiliki efek samping.

Sebagian rokok elektrik atau vape memiliki bentuk yang serupa dengan rokok. Walaupun demikian, cara pemakaiannya berbeda. Rokok biasa harus dibakar secara langsung untuk menghasilkan asap. Sedangkan pada vape, pemanasannya dilakukan untuk menguapkan cairan di dalam tangki alat, hingga menghasilkan asap.

Beragam Efek Samping Rokok Eletrik
Penggunaan rokok elektrik telah menjadi kontroversi di antara para perokok. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa rokok elektrik dapat membantu menghentikan kebiasaan merokok, serta banyak klaim yang menyebut rokok eletrik lebih aman dibandingkan rokok biasa.

Benar atau tidaknya klaim tersebut belum dapat dipastikan, karena penelitian yang mengkaji dampak penggunaan rokok elektrik dalam jangka panjang masih belum banyak dilakukan.

Itulah sebabnya Anda perlu berhati-hati jika ingin beralih ke rokok jenis ini sebagai cara untuk berhenti merokok. Dampak negatif rokok elektrik belum tentu lebih sedikit daripada rokok biasa. Berikut ini adalah beberapa efek samping dari rokok elektrik yang perlu Anda ketahui:

1. Meningkatkan risiko penyakit darah tinggi, diabetes, dan sakit jantung
Sebagian besar cairan yang dipakai untuk rokok elektrik mengandung zat nikotin. Beberapa kondisi yang dapat muncul akibat penggunaan nikotin dalam jangka panjang adalah naiknya tekanan darah dan denyut jantung, serta peningkatan risiko terkena resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

2. Meningkatkan risiko kanker
Sebagian merek cairan untuk rokok elektrik mengandung formaldehida yang dapat menyebabkan kanker. Selain itu, beberapa bahan dasar cairan ini, seperti propelin glikol dan gliserol, juga bisa berubah menjadi formaldehida jika dipanaskan. Hal ini membuat penggunaan rokok elektrik dianggap dapat meningkatkan risiko munculnya kanker, seperti kanker paru-paru.

3. Meningkatkan risiko kerusakan paru-paru
Aroma lezat yang dihasilkan oleh rokok elektrik berasal dari zat berbahaya yang bernama diasetil. Jika terhirup, zat ini akan menyebabkan peradangan serta kerusakan pada paru-paru, dan berisiko mengakibatkan penyakit bronchiolitis obliterans (paru-paru popcorn).

Bronchiolitis obliterans adalah penyakit paru-paru langka, di mana bronkiolus atau saluran napas terkecil dalam paru-paru mengalami kerusakan permanen.

4. Menurunkan daya ingat pada anak-anak
Rokok elektrik sangat populer digunakan di kalangan remaja dan dewasa muda. Beberapa penelitian sejauh ini mengungkapkan bahwa kandungan nikotin dalam rokok elektrik dapat membuat anak remaja menjadi lebih aktif.

Namun bila digunakan dalam jangka panjang, kandungan nikotin ini dapat mengganggu daya ingat dan konsentrasi, terutama bila pengguna rokok elektrik juga menggunakan rokok biasa, atau mengonsumsi alkohol dan narkoba.

5. Menyebabkan kecanduan
Efek samping lain yang bisa ditimbulkan dari rokok elektrik adalah rasa kecanduan. Berhenti menggunakan rokok elektrik dapat membuat penggunanya mengalami stres, mudah marah, gelisah, dan sulit tidur .

Bahaya lainnya yang juga perlu diperhatikan, ada beberapa laporan yang menyatakan bahwa alat di dalam rokok elektrik dapat terbakar atau bahkan meledak bila beterainya terlalu panas.

Jika dibandingkan asap rokok biasa, asap rokok elektrik memang dianggap lebih aman bagi perokok pasif, karena kadar zat beracun dan bahan iritan di dalamnya lebih rendah. Meski demikian, asap rokok elektrik tetap bisa menyebabkan iritasi mata, batuk pilek, sesak napas, dan pusing, bila terhirup oleh orang-orang di sekitarnya.

Efek samping rokok elektrik sejauh ini masih belum diketahui secara pasti, sehingga tetap perlu diwaspadai karena mungkin saja lebih buruk daripada rokok biasa. Bagaimanapun, tidak merokok sama sekali tentu lebih baik. Jika Anda mengalami kesulitan untuk berhenti merokok, cobalah berkonsultasi dengan dokter.

sumber:alodokter

LEAVE A REPLY